Baiq Nuril Maknun menangis saat membacakan surat permohonan amnesti ke Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: Damar Iradat/Medcom.id
Baiq Nuril Maknun menangis saat membacakan surat permohonan amnesti ke Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: Damar Iradat/Medcom.id

Tangis Perjuangan Baiq Nuril Mengharap Amnesti

Nasional pencemaran nama baik
Damar Iradat • 15 Juli 2019 13:01
Jakarta: Air mata mengalir di wajah Baiq Nuril Maknun. Terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transakasi Elektronik itu tak kuat menahan sedih dalam berjuang mendapatkan keadilan.
 
Tangis Nuril pecah saat membacakan surat permohonan pengampunan (amnesti) kepada Presiden Joko Widodo. Dia mengajukan amnesti dengan harapan terbebas dari hukuman pidana.
 
"Saya selalu yakin kebenaran pasti akan terungkap dan keadilan pasti akan terjadi," kata Nuril di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ibu tiga orang anak itu sesekali menahan napas dalam-dalam saat membaca surat tersebut. Meski, air mata terus mengalir.
 
Eks guru honorer SMAN 7 Kota Mataram itu membacakan surat usai bertemu Kepala Staf Presiden Moeldoko. Dia meyakini surat tersebut bisa menggugah hati Jokowi.
 
Dalam surat itu, Nuril menceritakan garis besar kasus yang menimpanya saat itu hingga perjuangan mencari keadilan. Menurut dia, semua perjuangannya bukan lagi masalah pribadi, tapi untuk menegakkan harkat dan martabat manusia.
 
"Perjuangan saya menjadi perjuangan kami. Perjuangan kami menjadi perjuangan kita, saat Bapak pun berulang kali tanpa ragu menyatakan akan memberikan amnesti kepada saya," kata Nuril.
 
Baca:Baiq Nuril Serahkan Permohonan Amnesti
 
Dia percaya Jokowi selalu berpijak pada konstitusi. Jokowi juga dinilai bukan karena kasihan bila nantinya betul-betul memberikan amnesti. Tapi, hal itu didasari kesetiaan Jokowi terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dan kepentingan negara dalam penegakan hukum yang memenuhi rasa keadilan.
 
Nuril juga meyakini tidak ada satu orang pun di lingkaran Presiden yang akan menghalangi niat mulia Jokowi memberikan amnesti. Dia meyakini pengiriman surat amnesti dari Jokowi ke DPR tidak akan terkendala.
 
"Saya akan terus berjuang bersama Bapak untuk menegak keadilan dan kemanusiaan, penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di Republik tercinta ini," ujarnya.
 
Kasus yang menimpa Nuril ini bermula pada 2013. Dia mendapat 'teror' pelecahan seksual yang diduga dilakukan oleh Muslim, Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Teror tersebut terjadi berulang kali, bukan hanya melalui pembicaraan telepon, tapi juga saat perjumpaan langsung.
 
Sampai pada akhirnya, dia tidak tahan dengan perlakuan Muslim dan memutuskan melawan balik. Dia merekam percakapan dengan Muslim melalui telepon.
 
Nuril mengaku tak ada niat untuk menyebarkan rekaman percakapan tersebut. Dia hanya menceritakan soal rekaman tersebut kepada salah seorang koleganya di SMAN 7. Kawannya itu kemudian memindahkan rekaman percakapan tersebut ke laptop.
 
Motifnya adalah membantu Nuril lepas dari tekanan atasannya. Kawan tersebut yang juga berstatus honorer,ternyata menceritakan pada tiga orang kawan lain yang berstatus guru PNS dan satu guru honorer.
 
Pada 2015, rekaman itu beredar luas di masyarakat sehingga Muslim marah. Dia melaporkan Nuril ke polisi.
 
Muslim menilai tindakan Nuril membuat malu keluarganya. Akibat laporan itu, Nuril menjalani proses hukum hingga persidangan.
 
Di pengadilan tingkat pertama, Majelis Hakim PN Mataram yang diketuai oleh Albertus Usada, hakim anggota Ranto Indra Karta, dan Ferdinand M. Leander memutuskan Nuril tidak bersalah. Putusannya menyatakan Nuril harus dibebaskan dari dakwaan jaksa penuntut umum, serta memerintahkan agar dibebaskan dari tahanan kota.
 
Namun, putusan Majelis Hakim PN Mataram tersebut dibatalkan pada 26 September 2018 oleh Mahkamah Agung (MA), yang mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum. Pada 4 Januari 2019, Nuril mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke MA. Sayangnya, MA menolak langkah hukum Nuril itu.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif