Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Medcom.id/Fachri Audia Hafiez.
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Medcom.id/Fachri Audia Hafiez.

Sikap Toleransi Wali Songo Teladan Pengamalan Nilai Kebangsaan

Nasional nkri kerukunan beragama toleransi beragama
Cindy • 27 November 2020 21:55
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai sikap toleransi yang diajarkan Wali Songo menjadi teladan. Baik dalam penerapan nilai-nilai kebangsaan di masa kini maupun yang akan datang.
 
"Nilai-nilai toleransi yang diterapkan oleh Wali Songo menghadirkan proses penyebaran islam di Jawa berlangsung damai dan terjadi akulturasi," kata Rerie sapaan akrab Lestari saat melakukan sosialisasi empat konsensus kebangsaan di Pondok Pesantren Fathul Huda Demak, Jawa Tengah, Jumat, 27 November 2020.
 
Menurut Rerie, salah satu nilai kebangsaan adalah toleransi yang merupakan pondasi mempertahankan negara. Nilai-nilai toleransi yang dijunjung tinggi dan dijaga oleh para wali membuat islam dapat diterima semua orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini nilai-nilai kebangsaan itu juga terkandung dalam empat konsensus kebangsaan seperti Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945," ucap Rerie.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda, Sayung, Kabupaten Demak, Zainal Arifin Ma'shum, mengajak masyarakat mengikuti jejak para ulama dan aulia yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi di Tanah Air. Nilai tersebut dapat membuat pertahanan negara menjadi kuat.
 
"Karena itu kita harus pertahankan negara ini dengan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendahulu kita," kata Zainal.
 
Sementara itu, Ketua Umum PP Ikatan Sarjana NU, Ali Masykur Musa, mengatakan para santri harus memiliki pandangan bernegara yang sejalan dengan sikap dalam beragama. Kemandirian ekonomi di kalangan pesantren harus diwujudkan.
 
"Agar para santri mampu mandiri secara ekonomi dan mengambil peran dalam bernegara," ucap Ali.
 
Baca: Jokowi Ingatkan Pentingnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa
 
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Ulil Abshar Abdalla, mengungkapkan pembentukan negara Indonesia dipengaruhi oleh dua sejarah. Yaitu sejarah sejumlah agama dan sejarah Nusantara.
 
Menurut Ulil, Indonesia sudah dipengaruhi peradaban multikultural sejak dahulu kala. Kerajaan Sriwijaya di masa jayanya sempat menjadi pusat pengembangan agama Buddha.
 
Demikian juga dengan Kerajaan Majapahit yang mengembangkan agama Hindu dan Buddha. Serta Kerajaan Islam Samudra Pasai dan sejumlah kerajaan di Nusantara lainnya.
 
"Sejarah bangsa kita jangan hanya dilihat dari tahun 1945 saja. Namun, kita harus melihat sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke-7 saat Kerajaan Sriwijaya menguasai Asia Tenggara," ujar Ulil.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif