Warga mencari barang-barang dengan latar belakang gelombang tinggi di pantai Pasauran, Serang, Banten, Kamis (27/12). Foto: MI/Susanto
Warga mencari barang-barang dengan latar belakang gelombang tinggi di pantai Pasauran, Serang, Banten, Kamis (27/12). Foto: MI/Susanto

Mitigasi Bencana Perlu Perhatikan Budaya Lokal

Nasional Mitigasi Bencana
Dhika Kusuma Winata • 02 Januari 2019 09:00
Jakarta: Budaya lokal dan teknologi dinilai perlu berjalan beringinan dalam menerapkan mitigasi bencana di Indonesia.Ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berperan sebagai wahana untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui deteksi dini,, sementara itu, budaya yang terwujud melalui kearifan lokal berperan sebagai penggerak laku masyarakat kala menghadapi situasi bencana.
 
Peneliti kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Herry Yogaswara mengatakan, budaya lokal dalam mitigasi bencana yang berhasil adalah kearifan lokal Smong milik masyarakat Simeleue Aceh. Korban tsunami 2004 di kabupaten itu sangat sedikit dibanding daerah lain.
 
"Masyarakat Simeulue Aceh menjadi contoh paling baik bagaimana mereka bisa selamat dari terjangan tsunami 2004 silam. Korban di kabupaten itu sangat sedikit karena mereka memiliki kearifan lokal Smong," kata Herry Yogaswara kepada Media Indonesia, Selasa, 1 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, pendidikan dalam mitigasi bencana menjadi kunci untuk mengurangi risiko banyaknya korban. Pendidikan, baik itu formal di sekolah-sekolah maupun nonformal melalui sosialisasi kepada masyarakat umum, perlu bersandar pada budaya kearifan lokal. Pasalnya, kearifan lokal di sejumlah tempat terbukti bisa menyelamatkan banyak orang kala bencana melanda.
 
Ia mengatakan masyarakat di Tanah Air punya beragam pengetahuan lokal berkaitan dengan bencana. Kearifan lokal itu perlu digali kembali dan dijadikan sandaran pendidikan kebencanaan.
 
"Setiap kejadian bencana selalu memberikan pelajaran penting. Diperlukan pendidikan bencana yang sesuai dengan karakteristik lokal. Latihan tanggap bencana secara terus-menerus juga diperlukan sehingga akan terus diingat," jelasnya.
 
Meski begitu, ia menyatakan masalah saat ini terjadi perbedaan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan. Hal itu tercermin dari kasus gempa yang diikuti fenomena likuefaksi di Palu.
Masyarakat Palu, lanjutnya, sebenarnya memiliki pengetahuan lokal nalodo terkait dengan likuefaksi. Peneliti pun telah melakukan riset terkait likuefaksi.
 
Namun, kata Herry, pengetahuan itu seperti terputus dan tidak menjadi pegangan semua pihak. "Seperti ada gap antara sains dan pengambil kebijakan. Itu yang perlu diatasi yakni mendialogkan pengetahuan dan kebijakan," ujarnya.
 
Baca:Pakar: Masyarakat Kurang Menghargai Ruang Rawan Tsunami
 
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menilai perpaduan budaya dan iptek amat diperlukan. Sebabnya, imbuh Sutopo, seringkali masyarakat mengandalkan kearifan lokal yang sudah turun menurun diwariskan.
 
Contoh lainnya menjadikan perilaku hewan atau tanda alam sebagai penanda bahaya. Itu terjadi di sejumlah tempat antara lain pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Slamet Jawa Tengah.
 
Meski begitu, menurutnya, peran teknologi tetap tak tergantikan. Ia mencontohkan teknologi peringatan dini juga berperan besar dalam mitigasi. Ia mencontohkan keberhasilan sistem peringatan dini pada kasus erupsi Gunung Kelud, Jawa Timur, 2014 lalu. Sistem mitigasi bencana berhasil menyelamatkan 90 ribu jiwa karena masyarakat bisa dievakuasi secara tertib.
 
"Perlu dipadukan antara iptek dengan kearifan lokal dalam penanggulangan bencana. Tidak cukup hanya mengandalkan iptek saja atau pun kearifan lokal saja," katanya.
 
Baca:Bencana Masih 'Mengintai' di 2019
 
Berdasarkan kajian yang dilakukan BPS, BNPB, dan UNFPA tahun 2013, sambung Sutopo, menunjukkan budaya sadar bencana masyarakat belum terbentuk. Pengetahuan mengenai kebencanaan meningkat namun pengetahuan itu belum menjadi sikap, perilaku dan budaya.
 
"Budaya sadar bencana masyarakat Indonesia masih perlu upaya yang lebih serius dan berkelanjutan untuk meningkatkannya," ucapnya. (Media Indonesia)
 

 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi