Masyarakat Harus 'Berdamai' dengan Bencana
Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar Mohamad Arief Syafi'i (kedua dari kiri)--Medcom.id/Whisnu Mardiansyah.
Jakarta: Peta wilayah Indonesia berada dalam pertemuan lempeng litosfer yaitu Indo-Australia, eurasia, dan pasifik. Keberadaan tiga lempeng ini membuat peta Indonesia menjadi wilayah yang rawan bencana.

Pemetaan wilayah bencana bisa diidentifikasi dengan informasi geospasial. Informasi geospasial memberikan rangkaian penanggulangan bencana yang dapat dimanfaatkan pada tahap prabencana, saat terjadi, dan pascabencana.

"Perlu adanya peta rawan bencana yang berisi segala Infomasi terkait bencana. Mulai dari gunung api hingga lempeng bumi yang mulai bergeser," kata Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar Mohamad Arief Syafi'i di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, 11 Oktober 2018.


Peta rawan bencana dari informasi geospasial meliputi kesiapsiagaan bencana, pengurangan dampak bencana, tanggapan bencana, dan pemulihan pascabencana. Siklus manajemen bencana ini yang diharapkan mulai disadari pemangku kepentingan lintas kementerian dan lembaga.

"Siklus ini pada dasarnya berupaya menghindarkan masyarakat dari bencana. Baik dengan mengurangi kemungkinan hazard maupun mengatasi kerentanan," jelasnya.

Baca: BNPB Prediksi Korban Gempa Jatim Bertambah

Arief menyadari bencana sebagian besar tidak bisa ditolak. Mau tidak mau masyarakat Indonesia harus bisa 'berdamai' dengan bencana. "Satu-satunya cara meminimalisasi dampak bencana adalah dengan mengedukasi masyarakat," ujar dia.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id