Tak Masuk Akal Menyebut Teror Bom Pengalihan Isu
Sejumlah petugas kepolisian bersiaga pascaterjadi penyerangan di Polda Riau, Pekanbaru, Riau. (Foto: ANTARA/FB Anggoro)
Jakarta: Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai tak masuk akal menyebut teror bom yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia adalah pengalihan isu.

Sutradara andal sekelas film Hollywood pun, kata dia, akan sulit membuat skenario makro seperti teror bom atau kejahatan terorisme lainnya.

"Merancang skenario makro itu nonsense betul. Bagaimana merancang satu keluarga mau bunuh diri. Enggak masuk akal sama sekali," ungkapnya, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 24 Mei 2018.


Menurut Hermawan meyakini anggapan bahwa teror bom adalah pengalihan isu tak lain berlatar belakang politik. Siapa pun sangat mudah 'menumpang' secara politis dalam isu apa pun.

Menjelang tahun politik, ungkap Hermawan, banyak seni dari politik yang tidak masuk akal. Menyebut kasus teror bom adalah skenario atau seseorang berkelakar membawa bom di tempat umum adalah pernyataan yang serius. 

"Atau katakanlah (persaingan) Jokowi dan Prabowo, tetap saja perdebatan wakilnya siapa lalu ada bom dikaitkan ke sana. Tidak akan selesai," kata dia.

Hermawan menambahkan anggapan rekayasa saat terjadi peristiwa besar sudah sering terjadi, bahkan sejak orde baru. Bedanya saat ini ada media sosial dan bertepatan dengan tahun politik.

Orang-orang yang tak menyukai rezim saat ini, menurut dia, akan terus berusaha menggerogogoti dengan merancang isu apa pun meski tak masuk akal hanya untuk mendelegitimasi pemerintah.

"Kenapa orang menggunjingkannya karena ini tahun politik. Mencegahnya? jangan copy paste apalagi yang tersebar di grup-grup. Pake nalar dan logika," jelas dia 





(MEL)