Kombinasi Agama-Pancasila Senjata Ampuh Lawan Radikalisme
Seniman mengecat patung burung Garuda Pancasila di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (4/6/2017). Foto: MI/Susanto
Jakarta: Kombinasi antara Pancasila dan agama disebut menjadi penghalang paling efektif penyebaran radikalisme. Keduanya bahkan bisa meredam paparan radikalisme yang kini menyusup ke dunia pendidikan. 

Demikian dikatakan Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, saat diundang ke acara peringatan Nuzulul Quran yang disandingkan dengan hari lahir Pancasila di Jakarta, Sabtu, 2 Juni 2018 malam. Acara ini digagas Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

“Hubungan antara agama dengan Pancasila adalah hubungan yang saling memperkuat. Bukan saling bertentangan,” kata Moeldoko di Kantor Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Jakarta, seperti dalam keterangan tertulis.


Moeldoko memberi apresiasi kepada GP Ansor yang menyandingkan peringatan Nuzulul Quran dengan hari lahir Pancasila. Ia menegaskan peringatan keduanya adalah momentum untuk tidak mempertentangkan antara Pancasila dengan agama. 

"Justru memformulasikan agama dengan Pancasila agar saling memperkuat. Itu poin sangat penting agar bangsa kita semakin besar dan kuat,” kata mantan Panglima TNI itu.

Menyinggung maraknya penyebaran paham radikal di institusi pendidikan, ia menyarankan ada upaya preventif. Pernyataan ini ia lontarkan untuk mengomentari penangkapan terhadap tiga alumnus Universitas Riau oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiterori Polri, di Riau, kemarin.

Baca: Densus 88 Tangkap Sejumlah Orang di FISIP Universitas Riau

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan Densus menyita sejumlah barang bukti. Meliputi bom pipa pesi, bahan peledak TATP, sulfur, arang, gula, pupuk KN03, busur panah, anak panah, granat tangan, dan senapan angin. 

Ketua Umum Partai Kebangitan Bangsa, Muhaimin Iskandar, yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan radikalisme hanya cobaan, godaan, dan ekspresi dari kebodohan. 

“Radikalisme dan fundamentalisme itu cenderung bertentangan dengan agama,” ucap dia. Menurutnya, cara untuk menghilangkan paham ini adalah melalui pendidikan, dialog, dan penyadaran. “Itu mutlak,” ujarnya.





(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id