Antisipasi Dini Radikalisme, IPB Asramakan Mahasiswa
Diskusi bertema "Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas" di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin, 11 Juni 2018, Medcom.id/Intan Yunelia.
Jakarta: Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menerapkan sistem asrama, khusus bagi mahasiswa baru hasil penerimaan di Jalur Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) mulai tahun ajaran 2018/2019 ini.  Sistem itu merupakan langkah antisipasi dini IPB, terhadap potensi paparan radikalisme di lingkungan kampus.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru yang direkrut dari para Ketua OSIS. Para ketua OSIS ini akan dibentuk sebagai calon pemimpin yang diharapakan bisa menyebarkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan kampus.

"Saya punya jalur baru, jalur undangan ketua osis. Para ketua osis saya undang tanpa tes. Kenapa? Karena kita menghendaki mereka jadi calon leader," kata Arief dalam diskusi bertema "Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas" di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin, 11 Juni 2018.


Baca: Ketua OSIS Bisa Masuk IPB Tanpa Tes

Para mahasiswa yang direkrut dari Ketua OSIS ini nanti akan diasramakan. Mereka digembleng dengan pendidikan multi budaya. Berbaur dengan berbagai macam latar belakang etnis, bersama Ketua OSIS lainya, sehingga lambat laun nilai-nilai kebangsaan pun akan tertanam.

"Di asrama kita bisa mengontrol, apalagi pemimpin mahasiswa. Sehingga proses pendidikan kebangsaan itu bisa terdesain dengan bagus," jelas Arif.

Presiden Joko Widodo saat menerima Ketua OSIS dari seluruh Indonesia di Istana Bogor, Ant /Wahyu Putro.

Untuk tahun pertama ini, IPB menerima 50 mahasiswa dari Ketua OSIS di seluruh Indonesia. "Rencananya, 50 mahasiswi menyusul kemudian," jelas Arif.

Arif menjelaskan, nilai-nilai kebangsaan perlu dibangun sejak dini. Radikalisme dalam lingkungan kampus, bukan saja tumbuh saat mereka memasuki dunia kampus. Tetapi bisa saja dibawa sejak mereka duduk di bangku sekolah.

"Ini pekerjaan besar. Saya berharap Ormas (organisasi masyarakat) besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah turun gunung sejak SMP, SMA, dan mahasiswa. Karena ternyata paparan radikalisme itu sudah mulai masuk sejak SMA. SMA mulai digarap," jelas Arief.

Ia menambahkan, saat ini IPB sedang mencoba memunculkan mazhab pemikiran lain. Persoalan radikalisme soal eksklusifitas, mereka yang sudah terpapar radikalisme cenderung tidak mau menerima mazhab pemikiran lain.

"Mereka yang tidak mau lihat mazhab lain, ini yang IPB sedang coba untuk mendobrak itu. Bagaimana memunculkan mazhab alternatif," pungkasnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id