Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Jumlah Testing Pekan Ketiga November Mendekati Standar WHO

Nasional Virus Korona pandemi covid-19
Ferdian Ananda, Media Indonesia.com • 25 November 2020 03:06
Jakarta: Pemerintah masih terus mengejar pencapaian angka testing (pemeriksaan) covid-19 sesuai standar yang direkomendasikan badan kesehatan dunia atau WHO. Standar jumlah testing per wilayah disesuaikan dengan kepadatan populasi di dalamnya.
 
Berdasarkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 267 juta jiwa, maka diperlukan testing sebanyak 267.000 orang per minggu. Testing sudah mencapai angka tertinggi dan hampir mendekati standar WHO. Pada minggu ketiga November 2020, testing yang dilakukan sudah mencapai sekitar 239 ribu atau 88,6 persen.
 
"Ini adalah angka tertinggi yang pernah kita capai. Kita harus terus meningkatkan jumlah testing hingga tercapai target WHO," kata juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa, 24 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Secara testing, sejak awal Juni 2020 hingga minggu ketiga Oktober 2020, terlihat adanya tren peningkatan. Namun tren ini sempat mengalami penurunan pada dua pekan setelahnya, dan kembali meningkat hampir mencapai target WHO, yaitu berada di angka 86,25 persen pada minggu kedua November 2020.
 
Meski demikian, fluktuasi jumlah testing masih terjadi. Hal ini dipengaruhi berbagai hal, seperti kondisi libur, jumlah dan kapasitas laboratorium, SDM tenaga kesehatan, ketersediaan reagen, dan juga kondisi geografis Indonesia.
 
"Hal-hal ini tentunya menjadi evaluasi bersama khususnya bagi pemerintah daerah," kata Wiku.
 
Baca: Satgas: Kenaikan Jumlah Pasien, Peringatan Penanganan Covid-19
 
Tren jumlah testing juga sempat menurun dihari-hari tertentu khususnya saat hari libur. Hal ini tentunya sangat disayangkan terlebih pandemi covid-19 tidak mengenal hari libur.
 
"Kami meminta pemerintah daerah setempat untuk memperbaiki mekanisme operasional laboratorium melalui penambahan jumlah sif, dengan pemberian insentif yang sepadan," kata Wiku.
 
Selain itu perlu adanya pemeriksaan terkait kesesuaian jenis reagen dengan alat testing yang digunakan. "Pemerintah juga daerah diminta untuk menerapkan sanksi bagi masyarakat yang tidak mau, atau menolak dites. Agar masyarakat benar-benar mau menjalankan protokol kesehatan tanpa pandang," tegas Wiku.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif