5,1 Juta Anak Indonesia Belum Mengecap Bangku Sekolah.

Husen Miftahudin 26 April 2018 21:32 WIB
Kebijakan pendidikan
5,1 Juta Anak Indonesia Belum Mengecap Bangku Sekolah.
Inisiator Semua Murid Semua Guru (SMSG) Najeela Shihab
Jakarta: Masih ada 5,1 juta anak Indonesia yang sama sekali belum mengecap bangku sekolah.  Menjadi pekerjaan rumah semua pihak untuk meningkatkan pembangunan di bidang pendidikan, yaitu akses, kualitas, dan pemerataan.

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Guru, orang tua, pelajar, dan masyarakat memiliki tugas dan kewajiban yang sama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

"Harapan akan keluaran pendidikan yang lebih baik di Indonesia hanya dapat terwujud secara efektif dengan mengubah paradigma pendidikan lebih dari sekadar kegiatan bersekolah. Pendidikan merupakan sebuah proses kolaboratif antara anak, orang tua, pendidik, dan lingkungan sosialnya," kata Inisiator Semua Murid Semua Guru (SMSG) Najeela Shihab dalam sebuah diskusi yang digelar di FX Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 26 April 2018.


Ia menggarisbawahi, ada tiga persoalan utama pembangunan di bidang pendidikan, yaitu akses, kualitas, dan pemerataan.  Sebab, menurut Najeela, masih ada 5,1 juta anak Indonesia yang sama sekali belum mengecap bangku sekolah.

"Perbaikan akses memberi kesempatan anak untuk sekolah, tetapi saat berada di ruang kelas mereka dijejali informasi yang seharusnya mudah didapat dengan teknologi," imbuhnya.

Najeela mengakui, upaya peningkatan kualitas belajar mengajar saat ini masih sebatas perbaikan capaian nilai ujian demi mengungkit data statistik. Sementara kualitas pendidikan seharusnya mampu meningkatkan kecapakan induvidu dalam menjawab kebutuhan abad 21, dan memupuk insan yang siap berkontribusi bagi negara.

"Pemerataan yang diupayakan dalam kenyataannya kerap kekurangan sumber daya atau terjebak dalam sistem penganggaran," tukas dia.

Menurutnya, peningkatan akses dan kualitas pendidikan dapat terwujud melalui pelibatan aktif seluruh unsur publik. Jaringan SMSG, klaim Najeela, diyakini mampu mewujudkan hal tersebut karena bergerak untuk mempercepat pencapaian aspirasi pendidikan Indonesia.

"SMSG berupaya menggalang emansipasi untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya melalui berbagai kegiatan kreatif berbentuk sesi peningkatan kesadaran, dialog, konsultasi, dan kemitraan program yang menyentuh dan melibatkan anak atau murid, guru, orang tua, dan mitra kerja lainnya secara sekaligus." paparnya.

Hingga 2018, SMSG didukung 399 komunitas dan organisasi pendidikan dan telah menjangkau 500 sekolah yang menjalankan praktik baik. Selain itu, Jaringan SMSG juga sudah menjangkau 357.329 relawan guru, orang tua, dan siswa di 252 kabupaten/kota serta bekerja sama dengan 15 kementerian/lembaga dan 28 media massa.

Para pegiat Jaringan SMSG percaya, publik yang terdiri dari unsur komunitas atau organisasi pendidikan dan guru, tokoh masyarakat, pemuda, korporasi swasta atau sektor industri, media dapat dan perlu diberdayakan untuk turut mendorong peningkatan pendidikan Indonesia.

Menurut Najeela, masing-masing dari kita adalah subjek sekaligus objek pendidikan. Begitu banyak kegagalan paham yang dapat diatasi dengan kegemaran belajar karena semua pihak juga adalah murid. "Begitu banyak peran yang bisa kita ambil dan teladan yang bisa kita lakukan karena kita semua adalah guru," pungkas Najeela.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id