Rekrutmen Oknum Guru Cabul di Depok Diduga Bermasalah
Ketua KPAI, Susanto, MI/Ramdani
Jakarta:  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berharap dapat segera bertemu dengan Wali Kota Depok, untuk membahas dugaan proses rekrutmen guru yang tidak profesional di Depok.  Menyusul adanya fakta lain dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru honorer pada 13 siswa SD di Depok,

"Saya berharap seusai Lebaran dapat dibahas dengan Wali Kota Depok. Khususnya soal rekrutmen guru harus ketat baik honorer maupun PNS (Pegawai Negeri Sipil)," kata Susanto.

Susanto menyayangkan, kurangnya pendeteksian dini dari Dinas Pendidikan Kota Depok dan Kepala sekolah dalam kasus ini. Seharusnya mereka mampu mendeteksi sejak awal, mungkin karena rekrutmennya tidak fair sehingga kasus ini mencuat.


Susanto juga akan mengidentifikasi terkait kemungkinan adanya korban lainnya. "Kami khawatir ada korban lain yang tidak teridentifikasi dan tak terehabilitasi, akhirnya berdampak buruk di kemudian hari. Baik dampak personal maupun yang lainnya," tuturnya.

Baca: Kasus Depok Harus Gunakan UU Perlindungan Anak

Kasus pelecehan seksual sekaligus pedofilia di salah satu SD Negeri di Kota Depok, membuka tabir lain, yakni rekrutmen guru honor di Kota Depok yang tidak profesional. Guru honorer dijadikan wali kelas, dan mengajar tidak sesuai bidangnya, kemudian mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikannya.

Devid Oktanto, kuasa hukum dari 13 Murid di SD Negeri Depok menilai, proses rekrutmen guru honorer di SD tersebut tidak fair dan sarat kepentingan pribadi.  Sebab diketahui, kata Devid, sepenuhnya menjadi kewenangan kepala sekolah dan dinas pendidikan.

"Kalau tidak ada kepentingan kepala sekolah dan dinas pendidikan tidak mungkin menerima guru yang tidak kompeten. Tak mungkin pula membolehkan lulusan humaniora mengajar bahasa Inggris dan dijadikan wali kelas, sedangkan dia tenaga honorer. Ini tidak fair," kata Devid.

Devid dan KPAI mendatangi Polres Kota Depok untuk mengunjungi tersangka Walia Rahman, 24 tahun yang saat ini ditahan di Polres Kota Depok.

Disebutnya, setelah menemui pelaku, tim kuasa hukum dan KPAI akan mendatangi sekolah korban di Kompleks Taman Duta, Kelurahan Tugu.  Pasalnya ada beberapa informasi yang masih perlu dikumpulkan dan ditelisik lebih lanjut.

"Tindak lanjutnya lebih ke sekolahnya, karena informasi awal yang kami terima bahwa guru ini bukan guru kompeten, dia bukan lulusan bahasa Inggris tapi kenapa ngajar bahasa Inggris? Lalu, informasi awal juga dia ini wali kelas, sedangkan statusnya guru honorer," paparnya.

Devid menegaskan hingga saat ini pihaknya masih mengumpulkan bahan keterangan, mengingat proses pelengkapan berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kepolisian masih dilakukan. "Barang bukti masih kita kumpulkan, biarkan nanti, ini masih pelengkapan BAP dari orangtua korban, sampai saat ini masih empat orang dari 13 korban yang melapor," tutur Devid. (Media Indonesia)



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id