Lokasi terdampak tsunami Selat Sunda/ANT/Akbar Nugroho Gumay
Lokasi terdampak tsunami Selat Sunda/ANT/Akbar Nugroho Gumay

BMKG Diminta Jadi Pusat Koordinasi Deteksi Bencana

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Whisnu Mardiansyah • 24 Desember 2018 14:14
Jakarta: Ketua Komisi V DPR Fary Djemi Francis menyayangkan penanganan mitigasi bencana nasional belum terpadu. Ia meminta koordinasi penanganan mitigasi bencana di bawah satu lembaga.
 
"Dan sebagai koordinator untuk deteksi bencana bencana, kmai minta BMKG koordinasi instrumen yang dipelihara atau dikelola badan lain," kata Fary saat dihubungi, Senin, 24 Desember 2018.
 
Baca: BMKG: Tsunami Disebabkan Longsoran Anak Krakatau

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Fary, sirene seharusnya bisa langsung berbunyi ketika peringatan dini tsunami dikeluarkan. Masyarakat bisa bersiap dan memiliki waktu menyelamatkan diri.
 
"Kami mau mendapat penjelasan. Kami belum dapat infornasi terkait di Banten dan Lampung," sesal dia.
 
Politikus Gerindra itu meminta semua alat deteksi tsunami segera diaudit. Terlebih, hampir semua alat pendeteksi tsunami di negeri ini tak berfungsi. "Karena kejadian baik di Lombok maupun Palu itu deteksi tsunami tidak berfungsi," ucap dia.
 
Baca: Tim Polri Fokus Mengevakuasi Korban di Sepanjang Pantai
 
Kepala Pusat Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Tiar Prasetya mengakui kewenangan mengoperasikan alat deteksi bencana ada di beberapa lembaga. BMKG hanya memiliki wewenang mengeluarkan peringatan potensi tsunami.
 
"Tapi kebijakan membunyikan sirene dan evakuasi ada di pemerintah daerah (BPBD)," ucap Tiar di kantor BMKG, Minggu, 23 Desember 2018.
 
Ia juga menjelaskan pengadaan alat deteksi tsunami 'Buoy' di bawah Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sedangkan pengoperasian dan pengelolaannya di bawah konsorsium.
 
"Mereka hanya kirim data ke kami," ujar Tiar.
 
Tsunami di Selat Sunda menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan Sabtu, 22 Desember 2018 malam. Hingga pukul 07.00 WIB, 23 Desember, 281 orang tercatat meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi.
 
Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak. Korban dan kerusakan ini terdapat di 5 kabupaten terdampak, yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif