Sawah rusak karena banjir/MI/IMMANUEL ANTONIUS
Sawah rusak karena banjir/MI/IMMANUEL ANTONIUS

Realisasi Tanam Padi Meleset dari Target

Nasional padi
Anshar Dwi Wibowo • 11 April 2014 17:39
medcom.id, Jakarta: Menteri Pertanian Suswono mengakui realisasi tanam untuk periode Oktober 2013 sampai Maret 2014 tidak memenuhi target. Salah satu penyebabnya adalah banjir yang terjadi pada awal tahun.
 
"Beras sendiri kalau dari realisasi tanam sedikit di bawah target. Angka realisasi sekitar 96 persen hingga 98 persen," ujar Suswono di Jakarta, Jumat (11/4).
 
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, angka sementara realisasi luas tanam padi periode Oktober-Maret 2013/2014 seluas 8,042 juta hektare. Padahal, Suswono mengungkapkan, hasil panen periode tanam Oktober-Maret 2013/2014 menyumbang 60 persen dari total produksi padi tahunan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sesuai Rencana Aksi Bukit Tinggi, target produksi beras pada tahun ini diproyeksikan sebanyak 76,57 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). "Kita waspadai dampak banjir. Kita berharap dengan panas yang cukup baik, produksi akan baik. Rencana Aksi Bukit Tinggi kalau semua dipenuhi target (76,57 juta ton) bisa dicapai," tutur Suswono.
 
Suswono mengungkapkan, Kementerian Pertanian berusaha mengoptimalkan masa tanam pada periode berjalan yang tersisa. Menurutnya, musim kemarau yang diprediksi berlangsung normal bisa meningkatkan produksi. Ditambah gejala alam El Nino tidak akan berdampak besar pada produksi tahun ini.
 
"Kalau perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika terjadi El Nino ringan, tidak sampai ke ekstrem. Kedua, dengan panas yang bagus biasanya produksi bisa lebih bagus. Makannya saya katakan, dengan kemarau normal, kalau itu terjadi, kita akan mengoptimalkan produksi khususnya di lahan pertanian irigasi teknis," kata Suswono.
 
Lahan pertanian teknis, lanjutnya, tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, dan Aceh.
 
Kasubdit Padi Irigasi dan Rawa Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Wasito Hadi mengungkapkan, realisasi produksi padi pada Januari 2014 sebesar 3 juta ton, Februasi 7,1 juta ton, Maret 13,07 juta ton, dan April diproyeksikan 9 juta ton. Perhitungan totalnya di kisaran 31-32 juta ton. Adapun angka sementara untuk perkiraan produksi Januari-Juni mencapai 41,42 juta ton.
 
Wasito berkeyakinan target produksi periode Januari-Juni bisa diwujudkan meskipun pada awal tahun terjadi bencana banjir. Seperti diungkanpan Menteri Pertanian, realisasi tanam tidak tercapai. "Banjir kan tidak dibiarkan puso, itu ditanam lagi. Jadi panennya mundur," kata Wasito.
 
Berbeda dengan Suswono, Wasito mengaku pesimis target produksi padi 76,57 juta ton bisa tercapai meskipun usaha pencapaian target terus diupayakan. Perhitungan teknis di lapangan, produksi padi hanya di kisaran 73 juta ton.
 
"Faktor terbesar karena cuaca dan lahan makin lama makin berkurang. Tapi, dari produksi tetap masih surplus 7 juta ton. Untuk 10 juta ton (surplus) berat tercapai kecuali diversifikasi pangan berjalan baik," kata Wasito.
 
Apalagi, diperkirakan pada penanaman April-September 2014 hanya memakan lahan seluas 5 juta hektare. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang luas areal tanam lebih 5 juta hektare karena musim lebih bagus dibandingkan tahun ini.
 
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan, periode Januari hingga saat ini Bulog sudah menyerap beras petani lokal 500 ribu ton. Mulai awal April serapannya 20-30 ribu ton per hari karena musim puncak panen.
 
Meski begitu, Sutarto mengaku stok Bulog masih aman. Stok akhir tahun lalu mencapai 2,1 juta ton dan beras raskin yang harus digelontorkan sekitar 1,2 juta ton. Bulog sampai saat ini sudah menambah stok beras sebanyak 500 ribu ton.
 
"Yang jelas target Bulog punya stok akhir tahun 2 juta ton, untuk mencapai dua juta tergantung pada penggunaan tahun ini," jelas Sutarto.
 
Sutarto mengingatkan, Bulog sudah mempercepat penyaluran beras karena sejumlah bencana di awal tahun. Sutarto berharap, produksi padi tahun ini mencukupi. Ia masih memantau hasil produksi pada Juni-Juli. Perhitungan pada bulan itu bisa terbaca apakah pemerintah mesti impor beras atau tidak.
 
"Standing crop bulan Juni-Juli dan panen berikutnya berapa. Jadi keputusan impor dan tidak itu pada Juni," kata Sutarto.
 

(DOR)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif