Pengamat terorisme Ridlwan Habib. (Foto: Metro TV)
Pengamat terorisme Ridlwan Habib. (Foto: Metro TV)

Kekuatan Kelompok Ali Kalora Kecil

Nasional terorisme
02 Januari 2019 11:16
Jakarta: Pengamat Terorisme Ridlwan Habib menyebut kekuatan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora kecil. Dibandingkan dengan saat dipimpin Santoso, kelompok Ali Kalora hanya memiliki tujuh sampai delapan orang pengikut.

"Maksimal hanya delapan orang. Mereka masih di dalam hutan dan bergerilya dari satu titik ke titik lain," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Rabu, 2 Januari 2018.

Ridlwan mengatakan pola pergerakan kelompok Ali Kalora adalah pertahanan diri secara berpindah-pindah. Mereka kerap mencuri bahkan merampok hasil kebun warga untuk bertahan hidup. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Terkait penembakan yang dialami dua anggota kepolisian atas temuan mayat seorang warga termutilasi di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Ridwan menduga kasus tersebut berkaitan dengan perlawanan warga atas perilaku kelompok Ali Kalora yang kerap merampok pangan milik warga. Ia tak sepakat dengan anggapan mayat warga sipil  yang termutilasi hanya pancingan untuk menarik perhatian kepolisian. "Indikasinya warga ini petani. Semacam terus menerus dirampok lahannya, rusak tanaman rambatnya, sehingga ada kemarahan. Yang dituturkan warga seperti itu," kata dia.

Baku tembak, kata Ridlwan, terjadi karena kelompok Ali Kalora masih melihat sejumlah aparat berada di wilayah mereka usai mengevakuasi mayat warga yang termutilasi. Di sisi lain aksi ini juga menunjukkan bahwa jaringan MIT masih memiliki amunisi yang diduga telah habis setelah Santoso ditembak mati.

"Yang kita duga sudah tidak punya amunisi ternyata masih. Ini jadi pertanyaan siapa yang memasukkan," ungkapnya.

Ridlwan meyakini baku tembak yang melibatkan kepolisian dan jaringan Ali Kalora terjadi begitu saja tanpa terencana. Pola serangan yang dilakukan kelompok tersebut cenderung menyergap saat kepolisian tengah mengevakuasi mayat warga.

"Kalau terencana pasti sudah dirancang titiknya di mana, siapa yang akan dibunuh, tidak sekadar pembunuhan atau ditembak tapi lebih tragis. Secara karakter kelompok ini menciptakan ketakutan misalnya menggunakan simbolik penggal dan sebagainya," jelas dia.

Senada dengan Ridlwan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan Ali Kalora hanya mengoordinasi kekuatan sekitar tujuh orang. Senjata yang digunakan pun diyakini sisa peninggalan Santoso.

"Karena amunisinya terbatas makanya mereka selektif melakukan serangan dengan amunisi yang tersisa," pungkas Dedi.

Dedi menjamin kelompok Ali Kalora tidak mendapat pasokan senjata dari luar dan hanya memanfaatkan sisa teror masa Santoso. Saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran.




(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi