Ilustrasi--ANTARA/Fanny Octavianus
Ilustrasi--ANTARA/Fanny Octavianus

Inilah Faktor Pemicu Kecurangan di Pilpres 2014

Nasional kecurangan pemilu
Achmad Zulfikar Fazli • 05 Juni 2014 14:51
medcom.id, Jakarta: Gerakan Sejuta Relawan menemukan beberapa faktor kerawanan yang diduga kuat memiliki potensi memicu pelanggaran hingga kecurangan yang dilakukan peserta dan penyelenggara pemilu.
 
Untuk itu, Koordinator Gerakan Sejuta Relawan Yusfitriadi mengatakan pihaknya akan meningkatkan pengawasan hingga tingkat bawah terutama pada saat pencoblosan hingga rekapitulasi suara.
 
"Kami memandang adanya faktor kerawanan yang akan berpotensi tidak hanya melanggar aturan atau potensi kecurangan, lebih dari itu potensi konflik horizontal yang akan merugikan semua pihak, bila tidak ada upaya antisipasi semua pihak dalam menghadapi dinamika politik pilpres," ujar Yusfitriadi di Media Center Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (5/6/2014).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yusfitriadi memaparkan faktor kerawanan yang mungkin terjadi di pilpres antara lain:
 
1. Maraknya black campaign, negative campaign, dan isu SARA yang akan menembus sampai ke tingkat masyarakat paling bawah. "Hal ini (black campaign) berpotensi menimbulkan konflik horizontal di lapisan masyarakat jika terus digulirkan," kata dia.
 
2. Keterlibatan kepala daerah baik gubernur, bupati, atau wali kota serta para pejabat negara lainnya yang berpotensi menyalahgunakan kekuasaannya menggunakan fasilitas negara untuk kemenangan pasangan calon yang diusungnya. "Mobilisasi aparatur pemerintah di bawahnya untuk menggiring memilih pasangan calon yang diusungnya dan mengembangkan opini penggiringan kepada salah satu pasangan calon," ujarnya.
 
3. Keterlibatan pengusaha baik pengusaha pribumi maupun perusahaan asing juga dinilai menjadi titik kerawanan yang akan muncul di Pilpres 2014. Yusfitriadi mengatakan pengamanan dan keberlangsungan aset pengusaha itulah yang amat penting bagi pengusaha untuk tetap meraih keuntungan, siapapun yang menjadi presiden ke depan.
 
"Kondisi ini berpotensi mendatangkan pundi-pundi dana untuk pemenangan pasangan calon, perusahaan bisa menilai mana yang pro asing dan mana yang tidak pro asing. Mereka juga dapat mengabaikan batas-batas yang telah diatur dala regulasi penyelenggara pemilu, dengan berbagai macam modus," paparnya.
 
4. Keberpihakan media masyarakat. Dia menilai saat ini masyarakat telah tergiring dengan semua pemberitaan di media massa. Dia mencontohkan jika masyarakat ini melihat calon A, dia sudah tahu harus melihat di TV apa, sedangkan untuk melihat calon B, juga harus melihat distasiun TV apa.
 
"Mereka semua sudah tahu itu karena telah terbangun stigma di tengah-tengah masyarakat media mana saja yang berpihak terhadap pasangan calon, pemberitaan sekarang kurang mendidik," kata dia.
 
5. Keberpihakan penyelenggara pemilu kepada salah satu pasangan calon, yang mungkin akan terulang seperti yang terjadi dalam pemilu legislatif lalu. Dia mengatakan jika dalam pilpres kembali terjadi faktor ketidak hati-hatian dan ketidakcermatan ini akan menjadi isu yang amat mudah dipolitisasi dan dikembangkan. "Kalau keberpihakan pada pileg lalu masih bisa dimaklumi oleh para kontestan pemilu dan masyarakat, karena perhatian kepentingan yang menyebar. Jika dalam pilpres terulang akan rawan konflik," kata dia.
 
6. Sistem pengawasan dan penanganan pelanggaran pemilu, tidak maksimalnya pengawasan dan tidak cepat penanganan pelanggaran pemilu akan berpotensi pada runtuhnya penegasan hukum pemilu.
 
Hal itu dapat berimplikasi pada semakin terbuka dan vulgar perilaku politik yang melanggar, baik dilakukan pasangan calon, tim sukses, juru kampanye, pendukung ataupun penyelenggara pemilu termasuk jajaran bawaslu hingga tingkat bawahnya. "Untuk itu kami akan menerjunkan relawannya diseluruh wilayah Indonesia untuk mengawasi pilpres. Sehingga diharapkan berbagai potensi kerawanan segera terinformasikan kepada penegak hukum," tutup dia.
 

(PRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif