NEWSTICKER
Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Antara/Wahyu Putro A
Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Antara/Wahyu Putro A

GP Ansor Kutuk Kekerasan Agama di India

Nasional india
Medcom • 27 Februari 2020 22:00
Jakarta: Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengutuk aksi kekerasan dan dan kebiadaban antara umat hindu dan islam yang terjadi di India. Apalagi, protes menentang Undang-Undang Kewarganegaraan (CAA) di New Delhi itu justru berubah menjadi aksi kekerasan antaragama.
 
"Kami mengutuk aksi kekerasan dan kebiadaban atas nama agama yang terjadi di India," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas melalui keterangan tertulis, Jakarta, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Aksi kekerasan ini membuat sejumlah umat muslim melarikan diri dari rumahnya masing-masing. Bahkan, beberapa masjid di ibu kota India juga hancur setelah diserang oleh kelompok Hindu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami meminta dengan keras pemerintah dan aparat keamanan India untuk segera meredam aksi kekerasan yang terjadi agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih parah," tegas Gus Yaqut.
 
Baca: Korban Bentrokan UU Kewarganegaraan India Jadi 17 Orang
 
Gus Yaqut mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan protes keras terhadap pemerintah India yang dianggap tidak bisa melindungi warga muslimnya. Dengan alasan apa pun, kata dia, tidak dibenarkan menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan.
 
"Saya juga menyerukan kepada seluruh umat muslim di Indonesia untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas dan kerukunan antarumat beragama yang sudah berjalan baik selama ini di Indonesia," kata dia.
 
GP Ansor Kutuk Kekerasan Agama di India
Aparat keamanan berpatroli di jalanan New Delhi, India, 26 Februari 2020. (Foto: AFP/PRAKASH SINGH)
 
Gus Yaqut berharap kekerasan atas nama agama yang terjadi belakangan ini menjadi perhatian serius semua pihak. Dia menegaskan tindakan radikal (kekerasan) tidak dibenarkan dalam ajaran agama apa pun.
 
Terlebih, tindakan kekerasan yang dilakukan untuk memaksakan kehendak terhadap kelompok tertentu yang tidak sesuai dengan keyakinannya. "Dialog adalah jalan terbaik dalam setiap penyelesaian masalah antara kelompok yang bertikai," pungkasnya.
 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif