Illustrasi. Dok : MI/Irfan.
Illustrasi. Dok : MI/Irfan.

Seleksi Calon Anggota BPK Dikritik

Nasional bpk
Arga sumantri • 13 Juli 2019 02:37
Jakarta: Proses seleksi calon anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dikritik. Pasalnya, dari 32 nama calon yang lolos seleksi administratif dan kini sedang mengikuti uji kelayakan dan kepatutan, 12 di antaranya berlatarbelakang politikus.
 
Ketua Umum Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo mengatakan hal lain yang menjadi sorotan dalam seleksi anggota BPK yakni tidak terpilihnya empat orang pemegang Certified Public Accountant (CPA) of Indonesia. CPA merupakan sertifikat kompetensi di bidang audit.
 
"Mereka yang tak lolos merupakan anggota IAPI, yang selama ini telah berkiprah sebagai akuntan publik dan telah berpengalaman sebagai bagian dari tim pemeriksa di BPK," kata Tarkosunaryo dalam diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, pemegang CPA yang tak lolos seleksi tahap awal membuat BPK berpotensi kehilangan pengakuan kompetensi dari organisasi profesi bidang auditing beberapa tahun ke depan. Kondisi ini juga dipandang bisa menurunkan kepercayaan dan legitimasi terhadap kualitas laporan hasil audit di BPK.
 
"Keterwakilan seorang auditor yang memegang sertifikasi CPA menjadi salah satu simbol komitmen bagi para pimpinan BPK dalam menerapkan profesionalisme dan menjamin kualitas pemeriksaan," bebernya.
 
Tarkosunaryo mengatakan dalam periode sebelumnya banyak anggota BPK yang memegang sertifikat CPA. Misalnya, Sapto Amal Damandari yang sempat menjadi Pimpinan Auditorat Utama Keuangan Negara (AKN) V, dan Wakil Ketua BPK. Lalu, ada Moermahadi yang pernah menjadi pimpinan AKN I, pimpinan AKN V dan saat ini menjadi Ketua BPK.
 
"Dengan berakhirnya masa tugas Pak Moermahadi pada bulan Oktober 2019, praktis tidak satu pun pemegang CPA dalam kepemimpinan di BPK," jelasnya.
 
Merespons hal ini, Anggota Komisi XI DPR Johnny G Plate mengatakan tdak boleh ada diskriminasi terhadap seleksi calon anggota BPK. Setiap orang, termasuk anggota DPR, atau orang berlatarbelakang politikus dinilai berhak mendaftarkan diri jadi calon anggota BPK, asal memenuhi persyaratan.
 
"Undang-undang mensyaratkan rekrutmen anggota BPK ini non diskriminatif, tidak boleh kita diskriminasi," kata Johnny.
 
Sekretaris Jenderal Partai NasDem itu menyebut tidak boleh pula ada dikotomi antara profesional dan politikus. Pasalnya, kata dia, banyak politikus juga yang memiliki kapabilitas dalam masalah audit keuangan.
 
"Profesional itu dihadapkan dengan berbagai bidang, akuntansi dan berbagai bidang-bidang yang lain. Bukan politisi versus profesional, karena di politisi juga banyak profesional baik di DPR, MPR, DPD," terang Johnny.
 
Menurut Johnny, 64 orang yang ikut bursa calon anggota BPK dilakukan seleksi administrasi dengan menyertakan makalah. Dari makalah tersebut, Komisi XI yang dipimpin Hendrawan Supratikno memberikan penilaian. Johnny mengatakan banyak faktor menyebabkan hanya 32 orang yang lolos seleksi tahapan berikutnya.
 
"Makalahnya hebat-hebat dan makanya dibutuhkan tim seleksi yang banyak, jadi tidak asal-asalan," ungkap Johnny.
 
DPR telah memilih 32 nama Calon Anggota BPK yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Berikut daftar 32 calon anggota BPK yang lolos ke tahap berikutnya:
 
1. Nurhayati Ali Assegaf (Partai Demokrat)
2. Pius Lustrilanang (Partai Gerindra)
3. Ahmad Noor Supit (Partai Golkar)
4. Tjatur Sapto Edy (PAN)
5. Ruslan Abdul Gani (Partai Golkar)
6. Daniel Lumban Tobing (PDIP)
7. Akhmad Muqowam (PPP)
8. Wilgo Zainar (Partai Gerindra)
9. Suharmanta (PKS)
10. Sahala Benny Pasaribu (PDI Perjuangan)
11. Achsanul Qosasi (mantan politikus Demokrat)
12. Harry Azhar Aziz (mantan politikus Golkar)
13. Bambang Pamungkas (internal BPK)
14. Saiful Anwar Nasution (internal BPK)
15. Dadang Suwarna (internal BPK)
16. I Gede Kastawa (internal BPK)
17. Hendra Susanto (internal BPK)
18. Syafri Adnan Baharuddin (internal BPK)
19. Heru Kreshna Reza (internal BPK)
20. Riza Suarga (swasta)
21. Eddy Suratman (akademisi)
22. Izhari Mawardi (konsultan)
23. Jimmy M Rifai Gani (swasta)
24. Raja Sirait (konsultan)
25. Heru Muara Sidik (swasta)
26. Muhammad Yusuf Ateh (birokrat)
27. Fontian Munzil (hakim)
28. Gunawan Adji (akademisi)
29. Muhammad Syarkawi Rauf (akademisi)
30. Tito Sulistio (swasta)
31. Indra Utama (birokrat)
32. Chandra Wijaya (akademisi)
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif