Pemerintah Dinilai Kurang Peduli terhadap Keberadaan Masjid

M Sholahadhin Azhar 08 Juli 2018 19:40 WIB
radikalisme
Pemerintah Dinilai Kurang Peduli terhadap Keberadaan Masjid
Koordinator Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Agus Muhammad (kemeja putih) di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Minggu, 8 Juli 2018. Foto: Medcom.id/ M Sholahadhin Azhar.
Jakarta: Survei Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menyebut 41 masjid di kantor-kantor pemerintahan diduga terpapar paham radikal. Kondisi itu membuat pemerintah dinilai kurang memberi perhatian terhadap keberadaan masjid yang ada di lingkungan mereka.

"(41 masjid terpapar paham radikal) menunjukkan pemerintah kurang peduli terhadap masjid-masjid yang sesungguhnya berada di bawah mereka. Sebagian mungkin terlau sibuk dengan urusan pemerintahan, sebagian lain tidak ada pengawasan," kata Agus Muhammad selaku koordinator penelitian dari P3M di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Minggu, 8 Juli 2018.

Semestinya, ungkap Agus, pemerintah memiliki standar prosedur yang jelas terhadap keberadaan masjid yang ada di lingkungannya. Menurut dia, merebaknya paham-paham  radikal itu merupakan kelalaian pemerintah.


"Yang perlu dicatat, ini masjid kementerian bukan masjid masyarakat. Semestinya steril dari gagasan-gagasan atau ideologi radikal," imbuhnya.

Baca juga: Sejumlah Masjid Kementerian, Lembaga dan BUMN Terindikasi Radikal

Temuan itu perlu ditindaklanjuti. Sebab P3M hanya menyurvei konten-konten khotbah Jumat, sehingga hasil survei hanya pada temuan indikasi. Agus mengaku belum ada wawancara mendalam terhadap pihak terkait di masjid-masjid tersebut.

P3M melakukan survei pada 100 masjid yang ada di kantor-kantor pemerintahan. Rinciannya, 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga negara, dan 37 masjid Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dari 35 masjid yang ada di kementerian, ditemukan 12 masjid yang diindikasi terpapar paham radikal. Sementara di kantor lembaga negara ditemukan 8 masjid dan di kantor-kantor BUMN ditemukan ada 21 masjid yang diketahui terpapar paham radikal. 

Survei dilakukan pada 29 September hingga 21 Oktober 2017. Sebanyak empat kali ibadah Salat Jumat menjadi bahan pertimbangan survei. 



(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id