Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho/Medcom.id/Candra Yuli Nuralam
Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho/Medcom.id/Candra Yuli Nuralam

Longsor Sukabumi Buntut Alih Fungsi Lahan Konservasi

Nasional tanah longsor bencana longsor
Muhammad Syahrul Ramadhan • 02 Januari 2019 21:02
Jakarta: Kepala Pusat Data Informasi Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan longsor di Sukabumi akibat alih fungsi lahan di perbukitan. Hujan deras menimbulkan retakan dan berakibat longsor.
 
“Jadi ini adalah fenomena bencana alam, tetapi faktor antrophogenik dalam hal ini, di mana daerah-daerah yang seharusnya kawasan konservasi menjadi kawasan lindung karena kemiringan lerengnya melebihi 30%, saat ini sudah berkembang menjadi kawasan budidaya,” tutur Sutopo dalam konfrensi pers, Rabu, 2 Januari 2019.
 
Sutopo memaparkan dilihat dari longsoran yang terjadi di Kampung Cilampag, tanah di daerah itu merupakan material rombakan. Di sana tanah porous (tanah yang mampu dengan mudah atau cepat meresap air) dan subur sehingga dimanfaatkan untuk sawah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Baca juga:41 Korban Longsor Sukabumi Masih Dicari)
 
“Prinsipnya selalu ada gula, ada semut. Masyarakat tinggal di daerah-daerah yang subur, karena mata pencahariannya pertanian,” ujar dia.
 
Dia menegaskan dengan adanya alih fungsi akan timbul ancaman longsor. Karena itu bila melihat kontur tanah seperti itu, maka harusnya dijadikan hutan atau kawasan konservasi, bukan menjadi kawasan budidaya.
 
“Seharusnya lereng-lereng ditanami tanaman yang berakar panjang dan mengikat. Seperti Sukun selain berakar kuat juga mempunyai nilai ekonomi,” tambah dia.
 


 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif