Limbah sisa sabun cuci di aras aliran kali Banjir Kanal Timur.Foto: Antara.
Limbah sisa sabun cuci di aras aliran kali Banjir Kanal Timur.Foto: Antara.

Pentingnya Amdal untuk Jaga Lingkungan

Nasional banjir jakarta
Antara • 04 Januari 2020 08:35
Jakarta: Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) harus tetap dipertahankan dalam proses perizinan. Hal tersebut untuk memastikan tidak akan ada dampak terhadap lingkungan dalam seperti banjir suatu pembangunan atau investasi.
 
"Selama ini yang jadi isu adalah prosedurnya yang berbelit-belit, lama dan tidak pasti. Itu yang harus dibereskan. Masalah mendirikan bangunan harus sesuai standar pembangunan dan memperhatikan dampak terhadap lingkungan tidak bisa dihilangkan," ujar pakar tata kota Ernan Rustiadi yang juga akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) seperti dilansir dari Antara, Sabtu, 4 Januari 2020.
 
Kalau hal itu dihilangkan, kata Rustiadi, maka masyarakat akan mengalami kerugian jika segala pembangunan tersebut mengabaikan potensi gangguan terhadap lingkungan sekitar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berbagai masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat sekarang seperti banjir terjadi karena mengabaikan lingkungan.
 
Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB itu mengatakan untuk membuat Amdal dan KLHS menjadi efektif, maka laporan lembaga audit harus ketat melakukan pemeriksaan segala dokumen terkait analisis dampak pembangunan terhadap lingkungan.
 
Sebelumnya, timbul wacana dari pemerintah untuk menghilangkan kewajiban AMDAL demi memperlancar perizinan agar semakin banyak investasi masuk ke Indonesia.
 
Pentingnya laporan tentang dampak lingkungan juga digarisbawahi oleh pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Hudoyo.
 
Menurut dia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengimbau agar dalam setiap izin mendirikan bangunan (IMB) yang terbit menyertakan juga pembangunan sumur resapan sebagai salah satu bentuk usaha mempercepat proses peresapan air.
 
"Kami sedang menghitung sebetulnya berapa sih sumur resapan, biopori dan lain-lain yang diperlukan di Jakarta agar air yang tergenang itu langsung meresap. Sekarang kan tidak ada kewajiban untuk itu," jelas Hudoyo.

 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif