Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

BPOM Cabut Penggunaan Klorokuin untuk Obat Covid-19

Nasional Virus Korona bpom
Ferdian Ananda • 20 November 2020 05:08
Jakarta: Obat klorokuin dan hidroksiklorokuin tak lagi digunakan dalam pengobatan pasien virus korona (covid-19). Kedua obat itu memiliki risiko lebih besar daripada manfaatnya.
 
"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencabut persetujuan penggunaan darurat (EUA) klorokuin dan hidroksiklorokuin untuk pengobatan covid-19," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam keterangan virtual di Jakarta, Kamis, 19 November 2020.
 
Penny menyebut pihaknya mendapatkan laporan terkait keamanan penggunaan kedua obat itu dari hasil penelitian observasional selama 4 bulan pada 7 rumah sakit di Indonesia pada akhir Oktober 2020. Bahkan dari 213 kasus yang mendapatkan klorokuin dan hidroksiklorokuin, ditemukan 28,2 persen pasien mengalami gangguan ritme jantung berupa perpanjangan interval QT.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan hidroksiklorokuin dan klorokuin pada pengobatan Covid-19 memiliki risiko yang lebih besar daripada manfaatnya," kata Penny.
 
Selain laporan rumah sakit, pencabutan UEA dua obat juga didasari pemantauan tim ahli dan lembaga profesi. Beberapa lembaga seperti Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikan pencabutan.
 
“Dengan demikian, obat yang mengandung hidroksiklorokuin dan klorokuin agar tidak digunakan lagi dalam pengobatan covid-19 di Indonesia,” papar Penny.
 
Menurut dia, izin edar obat yang mengandung hidroksiklorokuin dengan indikasi selain pengobatan covid-19 masih tetap berlaku dan dapat digunakan untuk pengobatan sesuai dengan izin edar. Sedangkan obat yang mengandung klorokuin dicabut izin edarnya karena tidak digunakan untuk indikasi lain.
 
“Badan POM terus memantau dan menindaklanjuti serta melakukan pembaruan informasi dengan berkomunikasi dengan profesi kesehatan terkait berdasarkan data terkini di Indonesia, informasi dari WHO dan badan otoritas obat negara lain,” pungkasnya.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif