Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Ahli: Larangan Mudik Harus Diikuti Penutupan Tempat Wisata

Nasional Mudik Lebaran Virus Korona pandemi covid-19
Wandi Yusuf • 15 April 2021 05:17
Jakarta: Larangan mudik yang sudah ditetapkan pemerintah dinilai tak akan efektif jika tempat wisata tetap dibuka. Ahli penyakit tropik dan infeksi dr Erni Juwita Nelwan mengatakan kasus positif covid-19 akan tetap melonjak jika keduanya tak diterapkan bersamaan.
 
"Tempat wisata seharusnya tidak boleh dibuka selama ada larangan mudik Lebaran. Kalau tidak boleh mudik, tidak boleh juga wisata ya," kata Erni, melalui keterangan tertulis, Rabu, 14 April 2021.
 
Erni juga mengimbau masyarakat untuk patuh terhadap imbauan pemerintah untuk tidak mudik tahun ini. Jika masyarakat tetap ngotot mudik, ia memastikan kasus positif Covid-19 kembali melonjak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini vaksinasi massal belum dilakukan, sehingga bila banyak mobilisasi maka risiko penularan akan naik lagi. Protokol kesehatan harus terus gencar dilakukan," ujar ahli Erni.
 
Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa pemerintah lakukan untuk mencegah masyarakat yang bersikeras mudik. "Edukasi risiko dan manfaat, lakukan tindakan yang simpatik dalam melarang dan ada aturan yang tegas buat semua," ujarnya.
 
Erni mengatakan pencegahan agar masyarakat tidak mudik tidak bisa hanya oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah pun harus berupaya mencegah masyarakat mudik. Koordinasi antardaerah bisa jadi salah satu cara.
 
"Lakukan sistem isolasi sebelum keluar masuk suatu daerah, bahkan yang ekstrem, lakukan tes swab buat semua pendatang yang biayanya bisa sharing," ujarnya.
 
Baca: Langgar Prokes, 3 Tempat Usaha di Danau Sunter Utara Dapat Sanksi Teguran
 
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman juga mengatakan Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus positif Covid-19 jika mudik tidak bisa dikendalikan. 
 
"Itu suatu hal yang tidak bisa dibantah. Itu satu hukum biologi. Bahwa kasusnya terlihat atau tidak, itu lain soal," ujar Dicky Budiman.
 
Menurut Dicky, tidak terlihat bukan berarti tidak ada kasus. "Ini yang harus dipahami. Apalagi sekarang ada strain baru yang begitu cepat menular. Bukan berarti tidak terjadi infeksi penularan ketika arus mobilisasi relatif tinggi, itu tetap terjadi," kata Dicky.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif