Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar. Foto: Medcom.id/Amaluddin
Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar. Foto: Medcom.id/Amaluddin

MUI Kukuhkan Islam Moderat

Nasional mui wapres maruf amin
Faustinus Nua • 28 November 2020 05:59
Jakarta: Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Miftachul Akhyar terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 menggantikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam Musyawarah Nasoinal (Munas) X MUI. Munas juga menghasilkan sejumlah fatwa soal haji dan penggunaan human diploid cell untuk bahan produksi obat dan vaksin.
 
Ma’ruf Amin didaulat sebagai ketua Dewan Pertimbangan. Amirsyah ditetapkan sebagai sekretaris jenderal menggantikan Anwar Abbas. Munas juga menetapkan sejumlah nama untuk menduduki posisi wakil ketua umum, yaitu Anwar Abbas, Marsyudi Suhud, dan Basri Bermanda. Miftachul Akhyar mengatakan umat dan masyarakat menunggu kiprah kepengurusan baru MUI untuk menghadapi berbagai tantangan keumatan. 
 
"Umat sedang menunggu apa langkah kita," kata Miftach, Jumat, 27 November 2020. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: MUI Bukan Organisasi Politik, Struktur Kepengurusan Tak Bisa Diintervensi
 
Ia mengatakan menjadi ketua umum bukan berarti lebih baik dari figur lainnya. Pimpinan tertinggi MUI memiliki amanah yang besar sekaligus memikul beban yang berat. Miftach mengatakan salah satu tantangan umat yang harus diatasi di era teknologi saat ini ialah terjadi banyak ketidakpastian.
 
Ketidakpastian, kata dia, memicu umat berada di tengah kegamangan tujuan hidup sebagaimana diramalkan Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah menyebut ketidakpastian juga menjadi penanda datangnya kiamat.
 
"Rasulullah pernah menyatakan, hari itu sudah diramalkan Rasulullah, kiamat belum diselenggarakan sebagai penutup kehidupan dunia, sampai suatu masa seseorang tidak tahu motivasi apa kehidupannya, apa penggeraknya, apa penyebabnya," kata dia.
 
Miftach mengatakan Rasulullah menyebut pada zaman ketidakpastian itu terjadi gonjang-ganjing dengan menipisnya batas kebenaran dan kebatilan. Tidak ada upaya masyarakat mengklarifikasi isu, hoaks bertebaran, fitnah dianggap sunah, dan lainnya.
 
"Maka sangat berat tugas ulama. Sungguh mulia tugas yang mewarisi (Nabi Muhammad) dan diwarisi (ulama)," tegas dia. 
 
Ma’ruf Amin meminta MUI teguh menjaga cara berpikir dan bertindak umat Islam yang moderat, tidak berlebihan, tidak berlaku masa bodoh, serta tidak kaku dan tidak permisif. Islam wasatiah harus tetap menjadi pedoman. 

Kesejukan beragama


Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam mengatakan pengurus baru MUI harus mampu menjaga netralitas, independensi, dan integritas kelembagaannya. Hal ini berlaku baik untuk kerja-kerja sosial keumatan di dalam negeri maupun di luar negeri.
 
Sosiolog Universitas Gadjah Madah (UGM) Sunyoto Usman mengatakan dengan terpilihnya ketua dan kepengurusan yang baru, MUI bisa menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumahnya dan menciptakan kesejukan dalam beragama. Komunikasi dakwah salah satu yang perlu jadi fokus.
 
“Dalam memahami nahi mungkar misalnya, seharusnya tidak menimbulkan kesan ada kekerasan sebab tidak efektif karena bisa menimbulkan perlawanan yang memicu konflik. MUI harus bisa menciptakan kesejukan, baik dalam amar makruf maupun dalam nahi mungkar. Tentu tidak mudah,” kata Sunyoto.
 
Munas, kata dia, berusaha menempatkan figur ketua umum yang di satu sisi diakui oleh tokoh-tokoh organisasi Islam yang lain seperti Muhammadiyah. Di sisi lain, figur itu harus memperoleh dukungan umat yang besar seperti NU. 
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif