Direktur Lokataru Foundation Haris Azhar. Foto: Fachri Audhia Hafiez/Medcom.id
Direktur Lokataru Foundation Haris Azhar. Foto: Fachri Audhia Hafiez/Medcom.id

Tantangan Kubu Abdul Halim Disebut Wujud Kepanikan

Nasional sengketa tanah pertanahan
Juven Martua Sitompul • 25 November 2020 01:32
Jakarta: Kuasa Hukum Benny Tabalujan, Haris Azhar, tak ambil pusing dengan tantangan kubu Abdul Halim terkait sengketa tanah 7,7 hektare di Cakung Barat, Jakarta Timur. Tantangan itu dinilai sebagai wujud kepanikan akibat hasil investigasi Badan Pertanahan Nasional (BPN) mulai mengungkap kebenaran kasus tersebut.
 
"Sudah jelas kok. Ada putusan MA yang inkrah menyatakan SHGB PT Salve milik keluarga Tabalujan. Sudah ada vonis BPN yang menghukum 10 oknum karena menyalahi aturan, mulai dari membatalkan SHGB PT Salve, menerbitkan SHM Abdul Halim hanya dalam tempo sehari dengan melanggar prosedur, hingga tanah Abdul Halim yang secara ajaib membesar jadi 7,7 hektare, padahal dia ngakunya punya 5 hektare," kata Haris saat dikonfirmasi wartawan, Jakarta, Selasa 24 November 2020.
 
Haris mengajak kubu Abdul Halim menggunakan logika yang lurus. Menurut dia, dari sisi kronologisnya saja sudah kasat mata. Keluarga Tabalujan disebut memiliki tanah itu sejak 1975 dan statusnya sudah SHM.
 
Pada 2011, tanah diturunkan haknya ke HGB lalu diinbrengkan ke PT Salve untuk kepentingan bisnis. Abdul Halim ini mendadak muncul pada 2018 mengajukan gugatan berdasarkan AJB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini kita bukan ngomongin tanah 100 atau 200 meter loh ya. Tanah itu, kalau dihitung-hitung NJOP-nya saja saat ini di atas Rp500 miliar. Wajar enggak kalau kabarnya dia bilang itu dapat hibah? Kalaupun beli, umur Abdul Halim saat itu masih 25 tahun, uang dari mana dia untuk membeli tanah itu? Saya malah menduga mungkin Abdul Halim sendiri tidak tahu nilainya segitu," ujarnya.
 
Baca: Haris Azhar: Ada Buzzer Dalam Sengketa Tanah
 
Haris menduga Abdul Halim hanya diperalat oleh seseorang. Dia berkukuh ada sosok yang memanfaatkan Abdul Halim dalam sengkarut ini.
 
"Abdul Halim dipakai 'sang dalang' untuk meraih simpati masyarakat. Dia diprofilkan sebagai orang tua miskin yang tanahnya direbut mafia tanah. Andalan mereka cuma nuduh Benny mafia tanah yang menzalimi Abdul Halim, termasuk dengan menggunakan buzzer," tegas Haris.
 
Sementara pihak BPN menyebut status tanah yang masih dalam sengketa itu saat ini sudah berpindah tangan. Tercatat nama seorang pengusaha di bidang pelayaran sebagai pemilik baru lahan itu.
 
"Perubahan kepemilikan itu tercatat di kantor Pertanahan Jakarta Timur pada Juli 2O20," ucap Inspektur Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN), Sunraizal.
 
Sebelumnya, kubu Abdul Halim melalui kuasa hukumnya, Hendra, menantang Haris Azhar untuk menghadirkan kliennya dan berpikir secara logika.
 
Hendra mengatakan kliennya, Abdul Halim, adalah seorang kakek yang cuma memiliki satu bidang tanah. Sedangkan Benny Tabalujan, kata dia, punya tanah di mana-mana.
 
"Abdul Halim, yang cuma punya satu bidang tanah, dimakan oleh Benny Tabalujan. Pakai logika saja," kata Hendra.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif