Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Noer Adi Wardojo. Foto: Dok KLHK
Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Noer Adi Wardojo. Foto: Dok KLHK

Indonesia Buktikan Komitmen jadi Negara Ramah Lingkungan

Nasional ramah lingkungan
Theofilus Ifan Sucipto • 07 Desember 2019 07:42
Madrid: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan Indonesia terus mendorong pola konsumsi dan produksi berkelanjutan barang ramah lingkungan. Langkah tersebut dilakukan melalui pendekatan sistemik dan operasional.
 
"Secara sistemik, pemerintah Indonesia telah menerbitkan sejumlah ketentuan terkait pola konsumsi berkelanjutan," kata Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Noer Adi Wardojo di Gedung Ifema Madrid, Spanyol, Jumat, 6 Desember 2019.
 
Noer mengatakan bukti nyatanya tersebut berupa peredaran kayu legal, kantor ramah lingkungan, dan pengembangan standar produk ramah lingkungan. Selain itu pengadaan barang atau jasa harus ramah lingkungan di instansi pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Secara operasional, penerapan pola konsumsi berkelanjutan diterapkan dari praktik yang sederhana," ujar dia.
 
Noer mencontohkan misalnya mengganti kantong belanja plastik sekali pakai dengan kantong yang bisa diguna ulang. Praktik itu, kata dia, sudah berhasil diterapkan di banyak tempat di Indonesia
 
Perubahan iklim sudah menjadi kenyataan. Upaya mitigasi harus dilakukan dengan tetap menyelaraskan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
 
Dalam kesempatan yang sama, Pejabat Senior Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) Martin Frick meminta seluruh begara menyelaraskan implementasi tujuan berkelanjutan (SDG). Apalagi, emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia atau antropogenik yang terus meningkat.
 
"Dampaknya perubahan iklim yang dianggap masih bisa dikendalikan, kini benar-benar sudah terjadi," tutur Frick.
 
Dia menambahkan bencana iklim seperti serangan gelombang panas dan curah hujan ekstrem terus meningkat. Gejala tersebut, ungkap Frick, adalah bukti perubahan iklim sudah terjadi.
 
Selain itu, lanjut dia, juga dampak perubahan iklim mengancam banyak negara kepulauan. Pasalnya, kenaikan muka air laut telah mencapai tujuh hingga delapan meter dari tahun sebelumnya. meter dari sebelumnya.
 
"Mari semua pihak bersama-sama mengambil aksi yang lebih kongkret untuk mencegah bencana perubahan iklim semakin memburuk," pungkas Frick.
 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif