Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

"Jangan Lagi Ada Antrean Panjang BPJS Kesehatan"

Nasional bpjs kesehatan
Surya Perkasa • 17 April 2019 23:09
Jakarta: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akhirnya menggelontorkan dana sebesar Rp11 triliun untuk membayar klaim jatuh tempo kepada rumah sakit. Anggota Komisi IX DPR RI Marinus Gea mengimbau BPJS Kesehatan dan rumah sakit untuk segera memperbaiki pelayanan kesehatan pada masyarakat.
 
Perbaikan pelayanan menjadi hal mendesak karena menurutnya, aduan peserta BPJS terkait buruknya pelayanan rumah sakit. Aduan soal antrean masih kerap masuk.
 
"Ketika sakit mereka kan ingin langsung dilayani dengan baik. Tapi banyak dari mereka malah dibiarkan menunggu atau mengantre. Ini kan bisa buat mereka malah makin sakit. Tidak ada pelayanan pertama yang diberikan dari rumah sakit. Itu yang biasa dikeluhkan,” ungkap politisi PDI Perjuangan itu, Rabu, 17 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Marinus menyarankan BPJS Kesehatan dan rumah sakit segera duduk bersama meramu perbaikan sistem yang lebih baik. Dia khawatir tingkat kepercayaan masyarakat ke lembaga jaminan kesehatan plat merah itu memburuk.
 
"Situasi ini tak baik, karena animo masyarakat menggunakan BPJS semakin naik,” ungkapnya.
 
Ia berharap fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, memaksimmalkan fasilitas rawat inapnya. Ketersediaan tempat tidur rumah sakit dipandang Marinus sangat jauh dari ideal karena rasio ideal daya tampung rumah sakit berbandi penduduk yaitu 1:1.000.
 
“Di dapil saya misalnya, Tangerang Raya, ada kurang lebih 7 juta penduduk. Berarti kan dibutuhkan kurang lebih 7.000 tempat tidur. Nah, yang tersedia itu, paling banyak hanya 30% saja saat ini. Setahu saya ini juga terjadi di banyak daerah lain," sebutnya.
 
Senada dengan Marinus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga masih mengamati tingginya ketidakpuasan terhadap pelayanan rumah sakit bagi pengguna BPJS Kesehatan. Berdasarkan keluhan yang didapat YLKI lewat media sosial miliknya masih cukup banyak laporan yang masuk terkait pelayanan bagi pasien BPJS.
 
Laporan tersebut, lanjutnya, antara lain seputar antrean bagi pasien BPJS yang terbilang panjang dan memakan waktu. Sering kali pasien BPJS kehabisan tempat untuk rawat inap. Lalu juga, menyangkut keluhan pembatasan kuota yang diterapkan bagi pasien yang akan menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
 
“Banyak konsumen yang merasa, ketika menggunakan BPJS, dinomorduakan,” ucap Sekretaris YLKI Agus Suyatno.
 

(SUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif