Sejumlah seniman berbicara soal kesenian rakyat di Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id/Arthurio
Sejumlah seniman berbicara soal kesenian rakyat di Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id/Arthurio

Sekuat Tenaga Menyelamatkan Kesenian Rakyat

Nasional kesenian
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 25 Maret 2019 19:54
Solo: Kesenian rakyat seperti ludruk, ketoprak, wayang, reog, dan lenong semakin terpuruk di tengah gempuran kesenian modern seperti sinetron dan komedi situasi. Hanya kreativitas yang bisa terus memberi nafas bagi kesenian yang sudah hidup lama ini.
 
Seniman dari Kraton Ngiyom Ngawi, Bramantyo Prijosusilo, mengatakan masa depan kesenian rakyat sangat bergantung pada kreativitas masyarakat di mana kesenian tersebut tumbuh.
 
"Karena, kesenian rakyat sendiri adalah kesenian yang diproduksi oleh rakyat dan dikonsumsi oleh rakyat," kata dia saat menjadi pembicara dalam diskusi 'Kesenian Rakyat: Fungsi, Sejarah dan Masa Depan' di Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain kreativitas, Bramantyo menyarankan pegiat seni rakyat mengedepankan kejujuran dalam berkreasi. Jangan justru memberikan informasi yang salah. "Harus murni menyampaikan keadaan sosial masyarakat," ujarnya.
 
Setelah revolusi hijau, ia bercerita, sulit mengadakan kesenian berbentuk ritual, termasuk wayang kulit di acara pernikahan. Ini berkaitan dengan pola bercocok tanam yang sudah tidak konvesional lagi. Pengerjaan lahan yang biasanya dibajak oleh kerbau sudah beralih menjadi traktor tangan.
 
“Di Ngawi, ada yang namanya uro-uro. Dulu satu hamparan sawah dikerjakan bersama-sama. Bintang uro-uro yang merupakan para petani itu sendiri akan saling menjawab melodi dan syair spontan yang sangat individual sekali. Sangat organik dan dekat dengan masyarakat,” katanya.
 
Menurut dia, kejujuran seperti itu yang harus diciptakan para seniman agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Dengan kreativitas dan kejujuran, ia yakin kesenian rakyat akan tetap bertahan dan berdampak bagi kehidupan masyarakat.
 
Sarana komunikasi
 
Pegiat kesenian rakyat dari Komunitas Lima Gunung, Riyadi, yang juga menjadi pembicara mengatakan kesenian rakyat tak akan ditinggalkan jika dikelola dengan baik. Berkaca pada kegiatan Komunitas Lima Gunung yang ia gawangi, kesenian rakyat menawarkan sarana ritual dan ruang untuk berkomunikasi.
 
"Kami memasukkan pengetahuan tentang alam, gotong royong, pendidikan disiplin, bahkan hingga mencari kenalan baru atau jodoh," kata dia.
 
Contoh sarana ritual yang dimaksud, kata Riyadi, adalah saat para seniman Komunitas Lima Gunung yang sehari-harinya bekerja sebagai petani mengadakan ritual budaya di mata air. "Mata air adalah sumber kehidupan bagi penduduk setempat. Sehingga, bisa tetap dijaga bersama kelestariannya," kata dia.
 
Komunitas Lima Gunung dihidupkan oleh masyarakat yang ada di kawasan Gunung Merapi, Andong, Merbabu, Sumbing, dan Menoreh. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani. Saking produktifnya, selama 2018 komunitas ini sudah menampilkan 17 kali pertunjukan.
 
Menurut Riyadi, festival yang selama ini berlangsung akan terus coba dipertahankan sebagai tempat mewujudkan mimpi dalam aktivitas berkesenian. "Bila tidak ada penonton pun, festival ini masih bisa tetap bernafas dan berjalan," katanya.

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif