Kepala BNPB Doni Monardo - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Kepala BNPB Doni Monardo - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Pemerintah Kerja Sama dengan Australia Pelajari Tsunami

Nasional tsunami bencana alam
Candra Yuri Nuralam • 29 Mei 2019 12:59
Jakarta: Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjalin kerja sama dengan pemerintah Australia terkait investigasi dan penelitian untuk mempelajari kesamaan bencana masa lalu. Perjanjian ini akan berlangsung selama lima tahun ke depan.
 
"Pemerintah Australia sudah berkunjung ke BNPB menawarkan kerja sama dengan nilai anggaran sekitar USD25 juta untuk lima tahun," kata Kepala BNPB Doni Monardo di gedung Graha BNPB, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu, 29 Mei 2019.
 
Doni mengatakan investigasi ini akan dikhususkan di daerah yang punya potensi tsunami purba, terutama di pantai barat Sumatera."Mulai dari Aceh, Bengkulu, Lampung, sampai Selat Sunda itu memiliki beberapa segmen," ujar Doni.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kerja sama juga akan mempelajari perihal 'ulang tahun' tsunami. Doni berharap, dengan mempelajari kesamaan bencana masa lalu dengan Australia, Indonesia akan lebih sigap menghadapi bencana alam.
 
(Baca juga: BMKG Sebut Ada Potensi Tsunami di Papua)
 
"Nah, sebagian segmen sudah lepas ya energinya. Aceh misalnya. Itu ternyata periodesasinya (tsunaminya) 2.000 tahun sekali ya. Dan di Aceh itu tsunami Aceh sudah terjadi sebanyak lima kali. Termasuk yang 26 Desember 2004," tutur Doni.
 
Kerja sama ini juga akan mempelajari potensi megathrust dari Selat Sunda. Jika megathrust di Selat Sunda bergerak, tidak menutup kemungkinan berimbas ke Australia.
 
"Potensi megathrust dari Selat Sunda, kalau terjadi, kekuatannya mencapai 8,9 SR, gelombang tsunami yang muncul akan sangat besar, jauh dari (gempa) 22 Desember 2018 akibat longsoran Anak Krakatau," tutur Doni.
 
Dengan kerja sama ini Doni berharap Indonesia bisa mengetahui peta bencana dan pergerakan rawan pada masa lalu. Dengan mengetahui hal itu, pihaknya bisa membuat prediksi bencana masa depan sehingga akan mudah melakukan kesiapan dini.
 
"Kerja sama dengan Australia kita harapkan ada tim ahli akan melacak bencana di masa lalu, berapa kira-kira kekuatannya, dilihat dari karang di daratan. Kemudian di Indonesia Timur, termasuk Sulawesi itu kita lihat ada periodesasinya, seperti Sulteng ternyata periodesasi 40-50 tahun, Ambon 70-150 tahun," tutur Doni.
 
Doni mengatakan kesiapan bencana perlu peran serta semua pihak tidak hanya BPNB. Elemen pemerintah maupun masyarakat harus membantu kelangsungan kerja sama ini.
 
"Bagaimana kita bisa membangun pengurangan risiko bencana yang terintegrasi, bicara dari ATR, LHK dan PUPR, harus kerja sama. Tidak cukup kementerian tapi lembaga NGO semua elemen bangsa harus memahami," tegas Doni.
 
(Baca juga:Prosedur Baru Monitoring Deteksi Tsunami Selat Sunda)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif