Kekerasan. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Kekerasan. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.

KPAI Endus Dugaan Kekerasan di Masa Pengenalan Sekolah

Nasional Kekerasan di Sekolah
Muhammad Syahrul Ramadhan • 14 Juli 2019 10:04
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan dugaan kekerasan dari siswa senior terhadap peserta didik baru dalam masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Pengaduan berasal dari orang tua siswa di salah satu SMP swasta di Jakarta.
 
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan sang pelaku diduga menyerang korban secara verbal. Siswa baru mengaku dibentak-bentak pada pelaksanaan MPLS hari pertama.
 
"Disebut siput, lemot, miskin karena menggunakan kantong plastik dan ada sebutan setan," kata Retno dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, pelaku juga mengancam memukul jika korban tidak menuruti perintahnya. "Kekerasan tersebut terjadi di dalam ruang kelas, tidak ada panitia guru yang mendampingi ataupun melakukan pengawasan di kelas tersebut," ujar dia.
 
Berdasarkan informasi yang diterima KPAI, pada hari pertama banyak peserta didik baru menangis saat mengadu ke orang tua. Murid bahkan enggan berangkat ke sekolah. "Saat hari pertama, banyak siswa juga takut bicara dan takut izin ke toilet meski ingin buang air."
 
Pada hari kedua, banyak orang tua peserta didik baru yang memprotes sekolah. MPLS hari kedua dan ketiga pun berjalan lancar tanpa disertai kekerasan verbal lagi dari siswa senior.
 
Retno mengatakan pelapor tidak melanjutkan pengaduannya. Namun, KPAI diminta mengawasi pelaksanaan MPLS di berbagai sekolah di semua jenjang, dari SD sampai SMA atau SMK, agar tidak ada perpeloncoan dalam MPLS.
 
Retno mengatakan dalam petunjuk teknis (junkis), MPLS tidak menoleransi kekerasan. Kepala sekolah diminta memastikan MPLS dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016 tentang MPLS.
 
MPLS tahun ajaran 2019/2020 dilaksanakan dengan mengacu pada Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 juga disertai dengan edaran agar MPLS tetap mengacu pada aturan. MPLS menjadi sepenuhnya di bawah pengawasan guru dengan membatasi keterlibatan siswa senior untuk menghindari terjadinya perpeloncoan.
 
"Termasuk juga melarang penggunaan atribut MPLS yang bersifat merendahkan dan memalukan, seperti: penggunaan tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya kaus kaki berwarna-warni tidak simetris, dan sejenisnya. Aksesoris di kepala yang tidak wajar, alas kaki yang tidak wajar, papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan atau berisi konten yang tidak bermanfaat, dan atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran," jabar dia.
 
Permendikbud MPLS juga membuat ketentuan kegiatan yang dilarang, seperti memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merek tertentu. Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat seperti nasi, gula, dan semut, pun diharamkan.
 
Baca: Waspada, Siswi SD Paling Rentan Kekerasan Seksual
 
Sekolah dilarang memerintahkan siswa baru memakan dan meminum susatu yang bukan miliknya. Selain itu, panitia tak boleh menghukum siswa baru dengan tidak mendidik, seperti menyiramkan air serta hukuman fisik.
 
"Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali, dan aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran," jela dia.
 
Orang tua diimbau mengadu kepada KPAI jika di sekolah anaknya terjadi dugaan kekerasan. Pengaduan dapat dikirim melalui aplikasi WhatsApp 082136772273 atau email ke pengaduan@kpai.go.id.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif