Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Kemenkes: Penggunaan Masker Akan Berlangsung Sampai 2022

Nasional Virus Korona pandemi covid-19
Media Indonesia.com, Despian Nurhidayat • 20 Oktober 2020 21:36
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut penggunaan masker di Tanah Air akan berlangsung sampai 2022. Masker menjadi salah satu alat kesehatan penting dalam mencegah penyebaran covid-19.
 
"Masker ini masih dan akan tetap kita butuhkan. Prime prevention untuk covid-19 ini adalah mencegah terpapar. Artinya kita harus melindungi saluran nafas kita, jadi istilahnya masker ku melindungi kamu dan masker ku melindungi aku. Ini yang penting," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kemenkes Achmad Yurianto dalam konferensi pers Sinergi Pengadaan Masker UKM oleh Kemenkes secara daring, Selasa, 20 Oktober 2020.
 
Menurut Yuri, penggunaan masker diperlukan sekalipun vaksin akan mulai diimplementasikan oleh pemerintah. Vaksin, kata dia, menjadi secondary prevention atau hanya bersifat pencegahan sakit yang berat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yuri menegaskan vaksin tidak melindungi orang dari kemungkinan terpapar covid-19. Oleh karena itu, penggunaan masker masih akan terus dikampanyekan pemerintah.
 
Baca: Uji Spesimen dan Tingkat Kasus Positif Indonesia Diklaim Membaik
 
Dia menyebut ada banyak manfaat masyarakat terus menggunakan masker. Di antaranya, angka kesakitan karena infeksi saluran pernafasan menurun signifikan.
 
"Kemudian angka kesakitan akibat diare pun menurun dengan signifikan. Ini gunanya mengapa masker menjadi salah satu yang penting," kata Yuri.
 
Yuri mengatakan masker kain menjadi pilihan terbaik untuk digunakan masyarakat. Apalagi, masker kain mudah didapat dan diproduksi.
 
"Kami bangga dan bahagia bahwa ternyata ini juga memberikan ruang pada teman-teman kita yang berkebutuhan khusus untuk bisa produktif lagi dengan pembuatan masker," kata dia.
 
Kemenkes bahkan lebih nyaman memesan distribusi masker dengan UMKM dibanding dengan industri besar. Alasannya, industri besar tidak memerhatikan desain dan kenyamanan.
 
"Mereka yang penting diproduksi massal saja, jumlahnya banyak tapi tidak ada sentuhan kenyamanannya," tegas Yuri.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif