Perkuat Komunikasi dengan Sekolah

Orangtua Terapkan Pengawasan Ganda Pasca Tragedi Bom

Citra Larasati 18 Mei 2018 16:38 WIB
Pendidikan Karakter
Orangtua Terapkan Pengawasan Ganda Pasca Tragedi Bom
Petugas pengibar bendera beraksi pada upacara peringatan hari Sumpah Pemuda ala Pencak Silat. Foto: Antara/Paramayuda
Jakarta:  Tragedi pengeboman di Surabaya yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri cukup memunculkan kecemasan orangtua akan keamanan pendidikan anak-anaknya di sekolah.  Sejumlah orangtua tak mau ambil risiko,  mereka pun menerapkan sistem pengawasan ganda agar anaknya tetap steril dari paham radikal.

Vicky Rachman, 36 tahun mengaku tragedi pengeboman di Surabaya sempat membuatnya cemas, terlebih lagi muncul sejumlah pemberitaan bahwa paham radikalisme sudah menyusup ke sendi-sendi sistem pendidikan.  Kemudian merujuk pada pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, bahwa penerapan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah masih lemah.

Salah satu indikatornya, banyak sekolah yang mulai mengabaikan atau bahkan menghapus kegiatan yang bertujuan mendidik karakter siswa.  Seperti kegiatan upacara bendera yang biasanya digelar rutin setiap Senin dan di peringatan hari besar nasional.  


"Sekolah anak saya kebetulan juga kategori sekolah yang jarang sekali menerapkan upacara bendera," kata Vicky yang menyekolahkan putranya di Semut-semut Natural School, Depok, saat ditemui di Jakarta, Jumat, 18 Mei 2018.

Namun menurutnya, kegiatan yang bersifat nasionalisme dan memperkuat pendidikan karakter tetap dilakukan sekolah pada kegiatan dan kesempatan lain.  "Meski jarang upacara bendera, tapi sekolah anak saya ini rajin sekali membuat kegiatan acara-acara nasional, seperti hari Kartini, hari Pahlawan. Bahkan siswa selalu mendapat tugas kreatif dari acara-acara tersebut," papar Vicky.

Meski sempat khawatir, namun kecemasan tersebut berangsur berkurang. Seiring dengan sejumlah inisiatif yang Ia lakukan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa sekolah putranya steril dari paparan paham radikalisme.  

Vicky mengaku semakin memperketat pengawasan terhadap pendidikan putranya.
"Sebagai orangtua memang tidak boleh memasrahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah, harus memasang 'pengaman ganda', itu berlaku untuk sekolah di mana saja," ungkap Vicky.

Menurut Vicky, ia termasuk orangtua yang rajin berkomunikasi dengan pihak sekolah, baik guru maupun kepala sekolah.  "Ngobrol panjang, ini cara saya memetakan pola pikir, orientasi politik, keagamaan dan lain-lain dari si guru dan kepala sekolah," ungkapnya.

Dari pemetaan itu, membuat Vicky lebih mudah dalam memutuskan apakah sekolah tersebut merupakan sekolah yang aman bagi anak-anaknya atau tidak.  "Saya juga memperhatikan detail secara fisik perilaku guru.  Dari keduanya saya menyimpulkan bahwa sekolah anak saya meski berlandaskan nilai-nilai Islam, tapi modern dan moderat.  Seperti arahan Mendikbud, kita memang harus double surveiilance," tegasnya.

Sementara itu, Susiyanti (36) orang tua salah satu siswa di Semut-semut Natural School Depok juga mengaku yakin dengan sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah putranya. Terlebih lagi karena komunikasi antara sekolah dan orangtua murid sangat intens di sekolah alam berbasis Islam itu.

"Kami punya buku komunikasi juga dari sekolah, dan sangat sering komunikasi dengan guru kelas. Jadi alhamdulillah orangtua merasa tenang menyekolahkan anak di sana," terang Susi.

Sebagai orangtua, Susi juga selalu memperkuat pendidikan anak di rumah. "Kami, terutama Ayahnya, selalu memberikan pengertian dan penguatan setiap terhadap isu-isu radikalisme," tegas Susi.

Susi memang terbiasa berbagi tugas dengan suaminya dalam mengurus pendidikan anak.  "Kebetulan suami saya lebih luwes dan pintar menjelaskan hal-hal seperti itu," ujarnya.

Selain itu, ia dan suami menerapkan aturan bahwa asisten rumah tangga di rumah tidak diperkenankan memberikan penjelasan tentang apapun yang dipertanyakan anak. "Karena takut salah menjelaskan, nanti anak salah menerima. Saya ingatkan anak untuk menanyakan ke Ayah dan Bunda jika ingin mencari informasi tentang sesuatu," tutup Susi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah mengevaluasi dan menyisir sekolah-sekolah yang tidak optimal menjalankan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Mendikbud, Muhadjir Effendy mengatakan solusi untuk mencegah anak didik terpapar radikalisme adalah melalui penerapan program PPK.  Namun diakui Muhadjir, belum semua sekolah menerapkan PPK secara optimal.








 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id