Kepala BPOM Penny K Lukito (tengah) melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Mardika, Ambon, Maluku. Foto: Antara/Izaac Mulyawan.
Kepala BPOM Penny K Lukito (tengah) melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Mardika, Ambon, Maluku. Foto: Antara/Izaac Mulyawan.

Obat Tradisional Mampu Bersaing di Pasar Global

Nasional industri jamu obat tradisional
Achmad Zulfikar Fazli • 02 April 2018 12:54
Jakarta: Industri obat tradisional berpeluang unggul dan mampu bersaing di pasar global. Namun, obat ini harus memegang teguh kultur warisan leluhur dan berpedoman pada cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB).
 
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan obat tradisional adalah warisan budaya bangsa. Obat ini juga dapat menggerakan perekonomian Indonesia
 
"Masyarakat Indonesia masih memegang teguh kultur bahwa obat tradisional adalah warisan leluhur untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan. Ini tentunya menjadi peluang yang harus kita manfaatkan sekaligus tantangan agar obat tradisional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” kata Penny dalam keterangannya, Senin, 2 April 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penny berkunjung ke pasar tradisional di Sukoharjo, Jawa Tengah pada Minggu, 1 April 2018. Ia turut didampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini.
 
Penny menyerahkan 128 nomor izin edar (NIE) obat tradisional kepada 44 perusahaan. Sebanyak 103 surat persetujuan variasi diserahkan kepada 24 perusahaan. Lima surat keterangan pemenuhan CPOTB dalam aspek sanitasi dan higiene dan dokumentasi juga diberikan kepada 5 pelaku usaha UMKM.
 
"Ini merupakan apresiasi dan pengakuan kepada pelaku usaha yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Selanjutnya pelaku usaha wajib menjaga komitmennya untuk menerapkan semua aspek CPOTB secara konsisten," ujar Penny.
 
Menurut dia, keberhasilan memperoleh sertifikat CPOTB menunjukkan bukan hal yang mustahil bagi UMKM untuk berusaha di bidang ini. "Sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sesuai kapasitasnya masing-masing adalah kunci sukses agar jamu tidak punah dan terus tumbuh berkembang," ungkap Penny.
 
Penny juga mengingatkan agar pelaku usaha jamu tidak menjalankan praktik-praktik yang melanggar ketentuan, seperti mencampurkan bahan kimia obat dalam produknya. Ia mendukung penuh pelaku usaha jamu untuk berinovasi dan mengembangkan produk yang terjamin keamanan, mutu, khasiat, dan keasliannya.
 
Baca: Industri Jamu dan Herbal Indonesia Bisa Mendunia
 
"Namun kami juga tidak segan menindak tegas pelaku usaha yang melanggar aturan. Kita harus bangga dan memegang teguh filosofi bahwa jamu tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu sehingga merupakan warisan budaya bangsa yang harus kita jaga dan lestarikan," tutur dia.
 
Penny menjelaskan kunjungan ke UMKM obat tradisional di Sukoharjo dan industri jamu di Semarang ini juga bentuk komitmen dan dukungan terhadap peran strategis sektor usaha untuk menggerakan ekonomi rakyat. Pasalnya, dari hulu ke hilir, produk jamu ini sarat dengan potensi pemberdayaan masyarakat.
 
"BPOM mendukung eksistensi UMKM obat tradisional khususnya jamu melalui pembinaan, pendampingan dan fasilitasi sehingga mampu memenuhi persyaratan dan standar keamanan, mutu, dan manfaat serta meningkatkan daya saing," ujar dia.
 
Jawa Tengah yang dikenal sebagai sentra produksi jamu di Indonesia memiliki setidaknya 17 industri obat tradisional (IOT) dan 106 UMKM obat tradisional. Balai Besar POM di Semarang membina penerapan CPOTB kepada 62 UMKM obat tradisional, dan 12 UMKM telah memperoleh surat keterangan penerapan CPOTB dalam aspek sanitasi dan higiene serta dokumentasi dari BPOM.
 

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif