Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

38 Kasus Penodaan Agama Dilaporkan Hingga Mei 2020

Nasional Penodaan Agama
Sri Yanti Nainggolan • 21 Agustus 2020 18:41
Jakarta: Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati membeberkan kasus penodaan agama di Indonesia pada 2020. Sebanyak 38 kasus penodaan agama dilaporkan sejak Januari hingga Mei 2020.
 
"Daerah menonjol Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Maluku Utara, dan Jawa Barat. Daerah ini cukup banyak kasus tiap tahun," kata dia dalam webinar YLBHI, Jumat, 21 Agustus 2020.
 
Sebanyak 25 kasus sudah dilakukan penangkapan. Sementara 11 kasus di antaranya dalam penyelidikan, 10 kasus dalam penyidikan, satu kasus disidangkan, dan satu kasus tidak ditindaklanjuti. Dua kasus menyusul pada Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, 13 pelaku kasus penodaan belum ditangkap. Lima kasus masih dalam penyelidikan, empat kasus tak tahu perkembangan, dan empat kasus tidak dilanjutkan.
 
"Di Indonesia ada kemungkinan tidak ditangkap atau tidak ditindaklanjut. Masyarakat senang, padahal ini tanda buruk," kata dia.
 
Menurut Asfinawati, definisi penodaan masih kabur. Tak ada penjelasan penodaan agama dalam teks hukum di Indonesia.
 
Bahkan, istilah penistaan lebih populer dibandingkan penodaan. Istilah tersebut mengacu pada UU Organisasi Masyarakat (Ormas) Pasal 59 Ayat 3. Padahal, Kitab Undang-undang Hukum Pidanan (KUHP) Pasal 156a dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 28 Ayat 2 jo 45a, yang kerap dijadikan pasal pengaduan, tidak memiliki istilah tersebut.
 
"Penistaan lebih konkret daripada penodaan. Kata ini terkenal saat kasus Ahok (mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama)," ujar Asfi.
 
Selain itu, dia menyebut Pasal 156a KUHP cukup banyak digunakan dalam kasus penodaan agama. Misalnya pada kasus pria berumur 70 tahun bernama Amaq Bakri, yang dipidana karena masalah tafsir agama.
 
Asfinawati juga menyoroti dominasi anak di bawah umur yang terjerat kasus penodaan agama dari UU ITE. Sebanyak delapan kasus pelakunya berusia di bawah 21 tahun. Rinciannya, enam kasus berusia 18-21 tahun dua kasus di bawah 18 kasus.
 
"Dua kasus dengan tersangka lima orang. Tiga diantaranya berusia 14, 15, dan 16 tahun," terang dia.
 
Umumnya, para anak ini memelesetkan lagu yang disebarkan di media sosial. Contohnya lagu Aisyah.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif