Warkop milik Ismail dibakar massa. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
Warkop milik Ismail dibakar massa. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto

Ratapan Ismail Menatap Warkopnya Dibakar Massa

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Theofilus Ifan Sucipto • 23 Mei 2019 12:30
Jakarta: Mata Ismail berkaca-kaca. Kantung matanya besar. Dia tertegun melihat warung kopi (warkop) yang ia dirikan sejak 21 tahun lalu itu habis dilalap api.
 
Ismail bercerita peristiwa itu terjadi pada Rabu, 22 Mei 2019, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, dia sedang tidur setelah bekerja seharian. Suara pecahan kaca membuatnya terbangun.
 
Pecahan kaca sempat mengenai leher pria berusia 63 tahun itu. Rupanya, ada sekelompok massa yang merusak pos serta motor dinas polisi yang berada tepat di samping warkopnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya bangun langsung keluar. Untung enggak kena muka (kaca) lemparannya," ujar Ismail saat ditemui di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis 23 Mei 2019.
 
Massa yang kalap ikut mengincar warkop. Harapan Ismail agar warkopnya selamat sempat bersinar karena beberapa orang sudah mengarahkan untuk tidak membakar warkop. Namun, hal itu tak diacuhkan massa.
 
"Jadi ada provokatornya," kata dia.
 
Dia pun hanya bisa pasrah melihat massa merusak lokasi usaha tempatnya menggantungkan hidup. Ismail merasa percuma mencegah orang banyak itu melakukan aksi barbarnya.
 
Ratapan Ismail Menatap Warkopnya Dibakar Massa
Ismail, pemilik warkop yang dibakar massa. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.
 
Ismail mengaku kejadian malam itu berlangsung cepat. Seluruh perlengkapan warung seperti kursi kayu, kain, dan tripleks dijadikan satu lalu disulut korek oleh massa. Tidak hanya itu, lanjut dia, massa menjarah mi instan dan tiga tabung gas.
 
"Bahkan pakaian sama televisi saya dibakar duluan," tutur dia.
 
Baca: Pasar Tanah Abang Ditutup Hingga Sabtu
 
Dia bercerita bagaimana awalnya bisa membangun warkop yang berlokasi di tengah kota itu. Warkop itu dibangun sekitar 1998. "Tepatnya dua bulan sebelum (Presiden kedua) Soeharto lengser," kata dia.
 
Dia diberi izin membangun warkop di sebelah pos polisi karena sehari-hari membantu membersihkan Pos Polisi Sabang. Kini, dirinya gundah. Dia tak tahu apakah bakal melanjutkan usahanya sebagai penjual di warkop atau kembali ke kampung halaman.
 
"Enggak tahu (bagaimana). Kalau diizinkan lagi, saya mau jualan lagi. Kalau enggak, apa boleh buat balik ke kampung," pungkas dia.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif