Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. (foto: dok metrotv)
Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. (foto: dok metrotv)

Simak, Ini Profil 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30S/PKI

Nasional peringatan g 30 s pki isu g30s PKI
Adri Prima • 23 September 2021 18:32
Jakarta: Sebanyak tujuh perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban keganasan Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI. Ketujuh perwira bergelar Pahlawan Revolusi tersebut gugur dalam waktu yang hampir bersamaan karena dibunuh secara keji. 
 
Tak hanya itu, jasad ketujuh perwira itu dibuang ke dalam sebuah lubang di kawasan Jakarta Timur. Jenazah mereka ditemukan di sebuah sumur tua pada 4 Oktober 1965 oleh satuan Resimen Para Anggota Komando Angkatan Darat (RPKAD) di kawasan Lubang Buaya. 
 
Lokasi tersebut kini dijadikan Monumen Pancasila Sakti, untuk mengenang tragedi G30S/PKI. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini profil tujuh perwira TNI AD yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI yang mendapat gelar Pahlawan Revolusi:

1. Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Ahmad Yani diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima Angkatan Darat keenam menggantikan Abdul Haris Nasution. 
 
Ahmad Yani sempat mengenyam pendidikan di Kansas, Amerika Serikat. Dihimpun dari beberapa sumber, Ahmad Yani dikenal sebagai perwira cerdas. Ia menjadi otak keberhasilan TNI menumpas Permesta di Sumatera Barat.
 
Dalam peristiwa G30S/PKI, Ahmad Yani gugur di usia 43 tahun. Gelar Pahlawan Revolusi dinobatkan untuk Ahmad Yani pada 5 Oktober 2021. Selain itu, pangkatnya juga dinaikkan. 

2. S Parman 

Mayjen Siswondo Parman (S Parman) lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia juga pernah bersekolah di Amerika Serikat pada tahun 1951. 
 
Dalam karier militernya, S Parman pernah menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tengara di Yogyakarta (Desember 1945), Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya (1949), Kepala Staf G (1950), hingga Atase Militer RI di London (1959). 
 
S Parman gugur dalam pemberontakan G30S/PKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. 

3. R Soeprapto

Letjen R Soeprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 20 Juni 1920. Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, ia sempat ditawan dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun dia berhasil kabur.
 
Jabatan terakhir R. Soeprapto adalah sebagai Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatra. R Soeprapto didatangi rombongan Cakrabirawa di rumahnya pada pukul 04.30 WIB. Pasukan Cakrabirawa sempat meminta Soeprapto untuk segera menemui Presiden Soekarno sebelum beliau ahirnya dieksekusi. 

4. MT Haryono

Mas Tirtodarmo (MT) Haryono lahir di Surabaya, 20 Januari 1924. MT Haryono dikenal sebagai perwira berpendidikan tinggi yang menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Jerman, dan Belanda. 
 
Berkat kemampuan tersebut, MT Haryono sering dilibatkan dalam banyak perundingan dengan pihak Belanda maupun Inggris.
 
MT Haryono sempat bertugas di Belanda sebagai Atase Militer Indonesia. Ia kembali ke Indonesia untuk beragam tugas hingga akhirnya pada 1964 diangkat Presiden Soekarno sebagai Deputy III Menteril Panglima Angkatan Darat.
 
MT Haryono gugur setelah diberondong peluru di rumahnya. Jasadnya diseret dan dibawa dengan truk oleh romobongan penculik.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif