Capres nomor 01 Joko Widodo mengajak seluruh relawan untuk memerangi kabar bohong atau hoaks. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
Capres nomor 01 Joko Widodo mengajak seluruh relawan untuk memerangi kabar bohong atau hoaks. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Rakyat Muak dengan Hoaks

Nasional hoax
Dhika Kusuma Winata • 12 April 2019 08:42
Jakarta: Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menyebut publik muak dengan hoaks. Ini tampak dari hasil survei terkait penyebaran hoaks dan dampaknya pada kehidupan berbangsa.
 
Dari hasil survei diketahui sekitar 61,5 persen responden berpendapat hoaks sangat mengganggu. Jumlah itu meningkat dari 43,5 persen pada survei serupa yang dilakukan Mastel pada periode 2017.
 
"Sebanyak 61,5 persen masyarakat yang disurvei menyatakan hoaks sangat meresahkan dan memuakkan. Itu meningkat dari survei sebelumnya pada 2017," jelas Direktur Eksekutif Mastel Arki Rifazka di Jakarta, Kamis, 11 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Survei yang dirilis 10 April 2019 itu juga mengungkapkan responden yang berpendapat hoaks sangat mengganggu kerukunan masyarakat sebanyak 81,9 persen pada 2019, meningkat dari 75,9 persen pada 2017. Yang berpendapat hoaks sangat menghambat pembangunan pun meningkat dari 70,2 persen menjadi 76,4 persen.
 
Sementara itu, terdapat 54,3 persen responden berpendapat alasan maraknya penyebaran hoaks karena digunakan sebagai alat untuk menggiring opini publik, termasuk kampanye hitam. Sebanyak 5,8 persen responden berpendapat ada yang memanfaatkan hoaks untuk kepentingan bisnis.
 
Baca juga:Hoaks Server KPU Bermotif Uang
 
Survei tersebut dilakukan secara daring dalam kurun 1-15 Maret 2019 dengan melibatkan 941 responden. Rentang usia responden, 20-24 tahun (27,8 persen), 25-40 tahun (35,8 persen), 41-55 tahun (25 persen), di atas 55 tahun (4,90 persen), 16-19 tahun (6,1 persen), dan di bawah 15 tahun (0,30 persen).
 
Pertanyaan yang diajukan pada survei tersebut, antara lain soal definisi hoaks, perilaku masyarakat dalam menyikapinya, bentuk, dan saluran hoaks, dampak hoaks, dan penanggulangannya.
 
Sebanyak 88 persen responden menjawab bahwa hoaks adalah berita bohong yang disengaja; 49 persen berpendapat hoaks ialah berita yang menghasut, 61 persen berpendapat hoaks adalah berita yang tidak akurat, dan 31 persen berpendapat hoaks sebagai berita yang menjelekkan orang lain.
 
Sementara itu, sebanyak 93,2 persen responden mengaku bahwa berita seputar sosial politik menjadi konten berita hoaks yang sering mereka terima.
 
Media sosial
 
Hasil survei lembaga Digitroops Indonesia menyebutkan isu hoaks yang beredar, khususnya di media sosial dan dialamatkan kepada capres tertentu terbukti menurunkan elektabilitas, terutama di pemilih yang aktif di media sosial.
 
Peneliti Digitroops Indonesia Yusep Munawar Sofyan mengatakan survei itu melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia pada Maret 2019 dengan margin of error kurang lebih 2,8 persen.
 
Dari total populasi, sebanyak 44,5 persen atau 534 responden merupakan pengguna media sosial. Sebanyak 61,6 persen menyatakan hoaks sudah terlalu banyak. Hal senada dinyatakan 55,5 persen responden yang tidak memiliki media sosial menilai bahwa hoaks sudah terlalu banyak dengan persentase mencapai 37,2 persen.
 
"Bila dibandingkan, pemilih yang memiliki media sosial rentan sekali terkena hoaks. Mereka juga mengakui bahwa pemberitaan media memengaruhi pilihan dalam pemilu," kata Yusep.
 
Salah satu isu hoaks yang paling banyak mendapat perhatian publik ialah isu masuknya jutaan tenaga kerja asing. Sebanyak 48,2 persen menyatakan pernah mendengar isu itu dan 46,9 persen di antaranya menyatakan percaya dengan isu tersebut. (Ant/P-2)
 
Baca juga:Pemerintah Diminta Rancang UU Antihoaks
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif