TNI AL Kampanyekan Ekonomi Biru
Komandan Seskoal Laksamana Muda Amarulla Octavian saat menjadi pembicara di pertemuan internasional di Sri Lanka. Foto: Istimewa
Jakarta: Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Seskoal) Laksamana Muda Amarulla Octavian mengampanyekan pentingnya ekonomi biru di forum internasional. Kampanye dilakukan saat ia menjadi pembicara dalam Konferensi Maritim Internasional di Colombo, Sri Lanka.

"Negara-negara yang tergabung dalam IORA (Asosiasi Lingkar Samudra Hindia) dan IONS (Simposiun Angkatan Laut Samudra Hindia) wajib menjaga ekosistem kelautan dan sumber daya hayati maritim dalam konteks blue economy (ekonomi biru)," kata Octavian, melalui keterangan tertulis yang diterima, Kamis, 25 Oktober 2018.

Ekonomi biru menerapkan logika ekosistem yang selalu bekerja menuju tingkat efisiensi tertinggi. Ekonomi biru sejalan dengan konsep ekonomi hijau yang ramah lingkungan dan difokuskan pada negara-negara berkembang yang memiliki wilayah perairan (laut) yang besar.


Ekonomi biru dicetuskan pertama kali oleh Gunter Pauli untuk mengatasi kelaparan, mengurangi kemiskinan, menciptakan kehidupan laut yang berkelanjutan, mengurangi risiko bencana di daerah pesisir, dan memitigasi serta beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Oktavian yakin kolaborasi IORA dan IONS dalam menerapkan ekonomi biru akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang menjadi program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

"Sekaligus sebagai wujud dari visi Poros Maritim Dunia yang dicetuskan Presiden Joko Widodo," kata mantan dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan ini.

Di sela konferensi, Octavian juga melaksanakan pertemuan bilateral dengan Kasal Sri Lanka, Wakasal India, dan Kepala Dinas Operasi Kasal Rusia.

Konferensi Maritim Internasional ini diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Sri Lanka. Pertemuan yang dikenal sebagai Galle Dialogue 2018 ini mengambil tema Sinergi untuk Kolaborasi Manajemen Maritim 

Konferensi terbagi ke dalam enam sesi dengan pembicara dari perwakilan angkatan laut, organisasi internasional, dan perwakilan perguruan tinggi. Dari 89 perwira tinggi perwakilan dari 52 negara yang hadir, dipilih perwakilan dari 14 negara sebagai pembicara.

Masing-masing dari Sri Lanka, India, Cina, Rusia, Amerika Serikat, Indonesia, Inggris, Perancis, Jepang, Kanada, Australia, Bangladesh, Pakistan, dan Malaysia. 

Dari 22 perwakilan organisasi internasional, dipilih empat pembicara, yakni dari UNODC, ICRC, National Maritime Foundation (NMF), dan United Service Institution of India (USII). 

Dari 25 akademisi perwakilan dari 11 perguruan tinggi, dipilih tiga profesor dari University of Copenhagen, University of Wollongong, dan National University of Singapore. Satu pembicara lagi dari pemerintah Sri Lanka yaitu dari Marine Environment Protection Authority (MEPA).



(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id