Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sinovac
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sinovac

Ini Kata Warganet Setelah BPOM Restui Sinovac

Nasional
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Januari 2021 16:46
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin covid-19 Sinovac. Kabar itu pun kekinian ramai jadi perbincangan warganet.
 
Respon warganet beragam atas resminya Sinovac digunakan untuk vaksinasi di Indonesia. Ada yang siap untuk divaksin ada juga yang menuliskan meski bukan terampuh tetap mau divaksin demi keselamatan bersama.
 
"Mungkin bukan yg terampuh, tapi vaksin Sinovac ini yg dapat kita peroleh. Suka tidak suka, kita harus gunakan vaksin Cina ini demi keselamatan jiwa bersama. Sambil berharap Pemerintah @KemenkesRI @KemenBUMN memperoleh vaksin yg lebih mujarab," tulis @SBSembiring.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk efikasi Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan Sinovac ini data imunogenitas berhasil dengan baik. "Efikasi vaksin 65,23% di Indonesia," kata Penny dalam konferensi pers, Senin 11 Januari 2021.
 
Warganet juga mempertanyakan efikasi vaksin sinovac yang di bawah 70 persen. Namun, ada juga yang siap untuk segera divaksin.
 
"Kalo ada orang nolak untuk di vaksin, yauda biarin aja, masih ada yang lebih siap untuk sehat ko," tulis @NadyaTrisya.
 
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin pemakaian izin darurat atau emergency use authorization (EUA) terhadap vaksin covid-19 produksi Sinovac, Tiongkok. Izin diterbitkan setelah melewati tahapan uji klinis.
 
"BPOM memberikan persetujuan penggunaan kondisi emergency EUA untuk covid-19 yang pertama kali kepada vaksin coronavac produksi Sinovac Biotech Ltd yang bekerja sama dengan PT Bio Farma," kata Penny.
 
BPOM sudah mengevaluasi terhadap mutu vaksin itu. Hal ini meliputi pengawasan seluruh proses pembuatan bahan baku vaksin tersebut.
 
Pengambilan keputusan ini didasarkan pada rekomendasi yang muncul pada rapat pleno. Rapat itu diikuti anggota komite nasional penilai obat, ahli dalam bidang imunologi, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dan ahli epidemiologi pada Minggu, 10 Januari 2021
 
"Pengambilan keputusan ini dilakukan berdasarkan evaluasi dan diskusi yang komprehensif terhadap data dukung dan bukti ilmiah yang menunjang aspek keamanan khasiat mutu dari vaksin," ujar dia.
 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif