Menaker Dukung Regulasi yang Melindungi Pekerja Seni
Menaker Hanif Dhakiri. Dok. Kemenaker
Jakarta: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mendukung adanya regulasi yang bisa mendorong pertumbuhan industri seni dan film nasional, serta mampu memperkuat perlindungan kepada para pekerja seni. 

Semakin berkembangnya industri kreatif di bidang seni, semakin banyak juga kompleks permasalahan yang dihadapi pekerja seni dan industri film. Maka diperlukan perlindungan terhadap pekerja insan perfilman.

"Perlindungan kepada pekerja seni akan memberi manfaat yang adil dan secara ekonomi akan banyak multiflier efek yang muncul dan memperkuat pertumbuhan kita secara keseluruhan, " ujar Hanif saat memberikan sambutan acara Focus Group Discussion (FGD) dan dialog dengan insan perfilman dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat, 4 Mei 2019. 


Hanif berharap dengan adanya regulasi, pekerja seni insan perfilman ini bisa dibantu segala permasalahannya dan regulasli tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap insan perfilman. Tujuan utamanya bukan semata-mata melindungi pekerja seni, tapi juga mendorong agar industri kesenian, industri perfilman Indonesia bisa tumbuh dan berkembang lebih baik.

"Sekarang saja sudah kelihatan pertumbuhan jumlah bioskop dan pertumbuhan jumlah film nasional semakin banyak. Akhirnya cita rasa masyarakat terhadap film nasional juga makin meningkat," katanya.

Ia menambahkan melalui FGD dan dialog dengan insan perfilman akan ditemukan identifikasi dan bentuk perlindungan insan perfilman, khususnya terkait permasalahan pengaturan waktu terhadap waktu kerja waktu istirahat (WWKI) pekerja film, pengaturan keselamatan dan kesehatan kerja pekerja film, pengaturan jaminan sosial pekerja film dan pengaturan pekerja anak di sektor perfilman.

Menaker Hanif melanjutkan dulu jika ada yang  menonton film nasional, dianggap ndeso. Namun anggapan itu saat ini sudah berubah. Sebab dulu judul film nasional masih horor seperti Malam Jumat Kliwon dan Sundel Bolong dikemas sangat ndeso. Tapi sekarang film horor apapun kemasannya sudah sangat modern. 

“Sehingga masyarakat punya apresiasi tersendiri, jadi nonton film Indonesia juga keren, diupload medsos dan jadi kebanggan, " ungkapnya.

FGD pekerja seni insan perfilman diikuti sebanyak 60 orang. Yakni dari Parfi56, Parfi, Rumah Aktor Indonesia (RAI), Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi), Paguyuban Artis Film Indonesia (Pafindo), Asosiasi Produser Film  Indonesia dan lain-lain.  




(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id