Awan tebal menyelimuti kota Makassar. (ANT/YUSRAN UCCANG)
Awan tebal menyelimuti kota Makassar. (ANT/YUSRAN UCCANG)

Puting Beliung Akibat Awan Kumulonimbus Belum Bisa Dideteksi

Nasional fenomena alam
Muhammad Syahrul Ramadhan • 04 Januari 2019 09:16
Jakarta: Kepala Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Fachri Radjab mengungkapkan awan kumulonimbus bisa menyebabkan puting beliung. Namun, pihaknya masih kesulitan melakukan deteksi awal.
 
“Kendala yang hadapi ialah kami hanya bisa mendeteksi awan kumulonimbusnya saja, jadi kami hanya menyampaikan ada awan kumulonimbus dan ada potensi puting beliung," tutur Fachri saat ditemui di Kantor BMKG, Jakarta, Kamis, 3 Januari 2019.
 
Fachri menyebut tak selalu awan kumulonimbus menyebabkan puting beliung. Untuk itu perlu dideteksi lebih lanjut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, pihaknya kesulitan mendeteksi lantaran durasi awan kumulonimbus singkat.
 
“Sehingga belum bisa mendeteksi secara pasti awan kumulonimbus mengakibatkan angin puting beliung kemudian memberitahukan ke masyarakat. Kami belum bisa seperti itu," tutur dia.
 
Namun, Fachri memastikan BMKG selalu memberikan informasi posisi awan kumulonimbus atau biasa disebut cb. Informasi dikirim ke otoritas penerbangan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
 
(Baca juga:Awan Kumulonimbus di Makassar Kejadian Biasa)
 
"Kami selalu informasikan ke pihak bandara berkaitan dengan adanya awan kumulonimbus, baik itu yang berada di jalur perbangan maupun tidak, itu otoritas bandara ATC (Air Traffic Control) untuk mengatur. Sedangkan untuk antisipasi kami juga informasikan kepada BPBD," tambah dia.
 
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) selama 2018 tercatat 298 kejadian angin puting beliung. Terbaru kejadian angin puting beliung melanda Desa Pangurugan Kulon Kecamatan Pangurugan Kabupaten Cirebon pada 30 Desember 2018. Kejadian itu mengakibatkan satu orang meninggal, sembilan orang luka dan 165 rumah rusak.
 
Baru-baru ini awan kumulonimbus muncul di Bandara Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan. Awan cb itu harus dihindari oleh para penerbang.
 
"Karena pertama di dalam awan cb ada down drive atau tekanan ke bawah yang membuat peswat bisa kehilangan kendali dan meluncur ke bawah. Kedua ada pembekuan," tuturnya.
 
Lantaran, puncak awan bisa mencapai 30 ribu kaki. Sehingga berbahaya bagi pesawat. Di dalam awan cb terdapat petir. "Ada ion-ion listrik di dalamnya," pungkas dia.
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif