Banjir Bengkulu. Foto: Istimewa.
Banjir Bengkulu. Foto: Istimewa.

Tambang dan Kebun Sawit Perparah Banjir di Bengkulu

Nasional bencana banjir
Media Indonesia • 29 April 2019 08:28
Jakarta: Banjir besar yang melanda Bengkulu, selain karena cuaca ekstrem, juga tak lepas dari kerusakan daerah resapan air di hulu. Pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit dinilai memperparah bencana yang menewaskan sedikitnya 17 orang itu.
 
Para aktivis lingkungan menilai bencana itu tak lepas dari rusaknya lingkungan di hulu Sungai Bengkulu. Keberadaan delapan tambang batu bara yang beroperasi di kawasan penyangga Hutan Lindung Bukit Daun merusak daerah tangkapan air.
 
Direktur Kanopi Bengkulu, Ali Akbar, menegaskan banjir tidak bisa semata ditimpakan pada hujan lebat. Pasalnya, kawasan daerah aliran Sungai Bengkulu di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah telah habis dikaveling untuk pertambangan dan perkebunan sawit. Kawasan ini sudah kehilangan fungsi ekologis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senada, Manajer Kampanye Industri Ekstraktif Walhi Bengkulu, Dede Frastien, mengatakan banjir yang melanda menjadi bukti rusaknya hulu sungai. Masalah ini disebabkan adanya aktivitas pertambangan batu bara.
 
"Salah satunya PT Kusuma Raya Utama yang menambang di kawasan konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu. Bencana ini seharusnya menguatkan gugatan Walhi terhadap PT Kusuma Raya Utama, tambang yang mengeruk isi perut bumi di hulu Sungai Bengkulu," jelas Dede seperti diberitakan Media Indonesia, Senin, 29 April 2019.
 
Baca: BNPB Kucurkan Rp2,25 Miliar Bantu Banjir Bengkulu
 
Sementara itu, data teranyar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, selain korban tewas, banjir juga menyebabkan 9 orang hilang, 2 luka berat, dan 2 luka ringan. Dari total korban tewas, 11 orang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah, 3 di Kota Bengkulu, dan 3 di Kabupaten Kepahiang.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu Rusdi Bakar, menuturkan 13 ribu warga terdampak banjir dan tanah longsor yang terjadi sejak Jumat, 26 April 2019. Sebanyak 12 ribu di antaranya mengungsi. Masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem hingga Mei.
 
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menyatakan banjir terparah dalam dua dekade terakhir ini juga mengakibatkan kerugian material mencapai Rp138 miliar. Dia pun meminta bantuan pemerintah pusat.

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif