Letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, (10/12). Foto: ANT/Weli Ayu Rejeki
Letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, (10/12). Foto: ANT/Weli Ayu Rejeki

Indonesia Belum Miliki Alat Pendetaksi Longsor Bawah Laut

Nasional tsunami Tsunami di Selat Sunda
Nur Azizah • 23 Desember 2018 22:28
Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyebut Indonesia belum memiliki alat pendeteksi longsor bawah luat. Lantaran 90 persen tsunami didahului gempa tektonik.
 
"Sehingga alatnya lebih diprioritaskan ke fenomena itu (gempa tektonik). Jadi, longsor bawah laut belum ada sistemnya," kata Dwikorita dalam program Breaking News di Metro TV, Jakarta, Minggu 23 Desember 2018.
 
Kendati belum memiliki alat tersebut, aktivitas di gunung vulkanik bisa dilihat dari sensor yang dimiliki Badan Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (BVMBG). Dwikorita berharap, BMKG bisa bekerja sama dengan BVMBG untuk mengakses sensor tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seandainya kami ada akses untuk itu, maka bisa mempermudah untuk memberikan peringatan diri akibat erupsi gunung api," ujar Dwikorita.
 
Baca:Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda Hilang Sejak 2007
 
Namun, Dwikorita menyebut, untuk mendapat akses tersebut tidak mudah, lantaran terbentur dengan proses birokrasi. "Secara birokrasi proses itu sangat panjang," pungkas dia.
 
Sabtu, 22 Desember 2018 tsunami menyapu kawasan Anyer dan Lampung. Hingga pukul 20.00 WIB, Minggu 23 Desember 2018 tercatat sebanyak 222 orang tewas, dan 843 orang luka, dan 30 oarang hilang.
 
Sedangkan kerusakan meliputi 556 unit rumah rusak, sembilan hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal rusak. Hingga saat ini, proses evakuasi terus dilakukan.
 

 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi