KPI bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) gencar melakukan sosialisasi dan publikasi sistem penyiaran digital (Foto:Dok)
KPI bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) gencar melakukan sosialisasi dan publikasi sistem penyiaran digital (Foto:Dok)

Digitalisasi Penyiaran akan Perkuat Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan

Nasional kpi lembaga penyiaran Berita Kominfo BAKTI
M Studio • 28 Oktober 2020 10:17
Jakarta: Digitalisasi penyiaran yang akan dimulai pada 2022 memiliki banyak manfaat. Beberapa di antaranya ialah mencerdaskan dan meningkatkan nasionalisme masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
 
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) gencar melakukan sosialisasi dan publikasi sistem penyiaran digital.
 
Kota Samarinda di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu tujuan kegiatan sosialisasi, setelah sebelumnya di Mandalika (Nusa Tenggara Barat) dan Serang (Banten). Dipilihnya Kaltim sebagai tempat sosialisasi dinilai tepat karena provinsi ini termasuk wilayah perbatasan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alasan utama pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyegerakan sistem baru penyiaran ini adalah agar masyarakat yang tinggal di perbatasan dan daerah 3T mudah mengakses siaran domestik sehingga ketahanan nasional di wilayah tersebut tetap terjaga.
 
Komisioner KPI Pusat Irsal Ambia mengatakan masyarakat Indonesia di wilayah perbatasan banyak yang kesulitan mengakses siaran dari dalam negeri. Kondisi ini membuat mereka mengonsumsi siaran dari negara tetangga. Alasannya sederhana, karena gampang diakses.
 
"Dahulu, masyarakat perbatasan itu sangat tertinggal. Bahkan, karena sering menonton atau mendengarkan siaran dari negara tetangga, kebanyakan dari mereka tidak tahu lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hal ini tentu dapat mengancam pertahanan dan ketahanan sekaligus rasa nasionalisme warga negara kita di wilayah tersebut,” kata Irsal, saat menjadi salah satu narasumber kegiatan Sosialisasi dan Publikasi “Menjaga Indonesia dan Perbatasan Melalui Penyiaran Digital” yang diselenggarakan secara daring dan tatap muka di Kota Samarinda, Kamis, 22 Oktober 2020.
 
Digitalisasi Penyiaran akan Perkuat Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan
 
Ancaman tersebut mendorong pemerintah mencari solusi dengan membangun infrastruktur digital. Pembangunan fasilitas ini menjadi tanggung jawab negara melalui Kominfo dan BAKTI.
 
"Fasilitas penyiaran di wilayah itu harus dibangun. Hal ini akan membantu percepatan informasi dan telekomunikasi di wilayah perbatasan. Karena itu poin dari digital adalah masuk dari perbatasan agar akses informasi bagi masyarakat di perbatasan itu akan sama, atau lebih baik sehingga tidak tertinggal dengan daerah lainnya,” ujar Komisioner KPI Pusat bidang Kelembagaan ini.
 
Manfaat lain dari adanya penyiaran digital dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusian seperti kebencanaan. Sistem ini juga membuat jumlah kanal frekuensi menjadi lebih banyak, sehingga akan menghadirkan lembaga-lembaga penyiaran baru dan ini makin memperkaya khazanah konten siaran.
 
Irsal menambahkan, keragamanan ini tidak hanya sekadar banyak konten, tapi juga harus mempertimbangkan kualitas dan kelayakan konten.
 
Digitalisasi Penyiaran akan Perkuat Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan
 
“Harus diperhatikan juga lembaga penyiaran yang bersiaran di daerah itu adalah lembaga penyiaran yang cukup baik dan berkualitas dalam menyediakan program siarannya. Sehingga penyelenggaraan penyiaran digital di wilayah perbatasan selain makin membantu ketahanan nasional juga mencerdaskan,” kata Irsal.
 
Proses digitalisasi penyiaran ini dilakukan melalui migrasi penyiaran televisi dari analog ke digital, atau analog switch off (ASO).
 
Penyelenggaraan digital diyakini akan membangkitkan bisnis penyiaran menjadi lebih pesat. Akan ada rantai baru dari bisnis penyiaran yang diprediksi memberi banyak peluang bagi pihak yang ingin masuk dalam industri ini.
 
“Banyak sekali keuntungan dari digital teresterial televisi ini. Oleh karena itu harus segera dijalankan. Kami sudah lama mendorong agar penyelenggaraan digital dimulai dari perbatasan,” kata Irsal.
 
Digitalisasi Penyiaran akan Perkuat Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan
 
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Kominfo Henry Subiakto menjelaskan berlakunya sistem siaran nasional dari analog ke digital akan menutup ruang kosong atau blank spot siaran di Tanah Air, termasuk di wilayah perbatasan.
 
"Kita memandang daerah perbatasan itu strategis dan harus diperkuat karena ada spill over dari luar negeri. Program siaran kebangsaan sangat penting. Sebab, kalau tidak masyarakat kita di sana memperoleh siaran dari negara tetangga yang belum tentu cocok dengan nasionalisme kita. Inilah kenapa perbatasan menjadi salah satu yang kita perhatikan,” kata Henry.
 
Kebijakan di perbatasan ini menjadikan perizinan penyiaran jadi mudah sehingga tidak perlu menunggu peluang usaha.
 
“Kalau di perbatasan kita perbolehkan. Kita dorong televisi nasional, radio, dan lembaga penyiaran publik itu mereka siaran dulu di perbatasan. Termasuk siaran digital dimulai dari perbatasan. Kalau mulai dari pusat, dari kota-kota, akan ada persoalan karena frekuensinya masih dipakai oleh televisi analog. Mereka belum bisa kita tata sebelum ada regulasi yang memperbolehkan pemerintah menata melalui regulasi ASO," ucap Henry.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif