Pengacara Dinar Ariefianto, Defrizal Djamaris. Foto: Zaenal Arifin/Medcom.id
Pengacara Dinar Ariefianto, Defrizal Djamaris. Foto: Zaenal Arifin/Medcom.id

Keluarga Mengaku Diminta 'Bungkam' Soal Peristiwa SN

Nasional bunuh diri
Zaenal Arifin • 22 Januari 2020 02:29
Jakarta: Dinar Ariefianto, orang tua siswi SMPN 147, SN, 14, yang melakukan percobaan bunuh diri di sekolahnya, mengaku pernah diminta oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, untuk tidak membesarkan peristiwa yang menimpa anaknya.
 
"Pihak sekolah dan pihak Dinas Pendidikan DKI, meminta persoalan ini supaya tidak dibesar-besarkan, karena murni kecelakaan," kata kuasa hukum Dinar Ariefianto, Defrizal Djamaris di Mapolres Jakarta Timur, Selasa, 21 Januari 2020.
 
Permintaan itu, kata Defrizal Djamaris, disampaikan ketika Dinar Ariefianto tiba di RS Tugu Ibu, Cibubur setelah mendapatkan kalau anaknya mengalami kecelakaan di sekolah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, lanjut Defrizal Djamaris, Dinar Ariefianto tidak menggubris permintaan tersebut, karena kliennya masih shock dengan kabar dan melihat putrinya terbaring tak berdaya di rumah sakit.
 
"Pada waktu itu beliau tidak menanggapi secara serius, tapi beliau kaget saja, kenapa jenazah belum dimakamkan, sudah ada pejabat yang menyatakan seperti itu (jangan dibesarkan)," ujarnya.
 
Dengan adanya pemintaan tersebut, kata Defrizal Djamaris, kliennya menduga ada kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Ditambah setelah kejadian pada Selasa, 14 Januari 2020 itu, pihak sekolah tidak lapor ke polisi.
 
"Ada asumsi-asumsi, karena ayahnya baru ta hu bahwa pihak sekolah tidak melaporkan kepada pihak kepolisian setelah kejadian itu, ini kan bukan kejadian biasa, umumnya kalau ada kejadian seperti itu, langsung lapor ke polisi," paparnya.
 
Defrizal Djamaris menduga, berdasarkan informasi yang diperoleh dari kliennya bahwa, putrinya tersebut pernah mengalami perundungan di sekolah. Sehingga pihak sekolah meminta peristiwa ini untuk tidak dibesar-besarkan.
 
"Keterangan yang didapat oleh ayah korban yang didapat dari putri pertamanya (kakak korban) bahwa adiknya ini pernah curhat mengenai perundungan dan segala macamnya di sekolah, mungkin perundungannya bukan perundungan fisik, tapi verbal," tegasnya.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif