Betah Mengabdi Karena Dihargai
Petugas kesehatan di Puskesmas Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat - Medcom.id/Dheri Agriesta
Sambas: Kementerian Kesehatan mengirim lima petugas kesehatan ke daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Meski jauh dari kampung halaman, petugas kesehatan itu bertahan karena perhatian yang diberikan masyarakat perbatasan.

"Mereka sangat menghargai kami di sini," kata petugas kesehatan Yuyun Ariska saat berbincang dengan Medcom.id di Puskesmas Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu, 27 Mei 2018.

Yuyun beserta empat kawannya merupakan peserta Nusantara Sehat yang ditugaskan mengabdi di Kecamatan Paloh. Puskesmas Paloh merupakan salah satu yang terbesar di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia.


Puskesmas ini dibangung Kementerian Kesehatan menggunakan dana alokasi khusus (DAK). Puskesmas ini memiliki fasilitas lengkap seperti ruang rawat inap dan instalasi gawat darurat.

Yuyun tak pernah membayangkan bakal mengabdi di perbatasan. Pengabdian di perbatasan pun tak berjalan mudah saat ia dan empat kawan lain datang. 

Bahasa merupakan salah satu masalah yang harus dipecahkan. Masyarakat Paloh menggunakan bahasa melayu dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Yuyun berasal dari Sulawesi Selatan.

Perlahan, masalah bahasa terpecahkan. Antusiasme masyarakat membantu tim Nusantara Sehat angkatan 8 ini menyesuaikan diri.

"Masyarakat antusias sekali kalau kita langsung berkunjung ke rumah mereka, antusiasme mereka tentang kesehatan itu sangat tinggi sekali," kata Yuyun.

Abdul Kadir mengamini perhatian masyarakat ini. Perawat asal Bantaeng ini tak masalah dengan proses adaptasi di Paloh. Namun, Kadir menyayangkan kondisi jalan menuju Paloh yang masih buruk.

"Kalau duka sih cuma soal jalanan," kata Kadir sambil mengulum senyum.

Butuh waktu tiga jam untuk mencapai Kecamatan Paloh dari pusat Kabupaten Sambas. Tiga jam perjalanan darat itu dihiasi sekali penyeberangan menggunakan fery.

Akses jalan buruk akan ditemui setelah menyeberang menggunakan fery. Jalanan rusak dan berlobang itu akan sulit dilewati jika hujan turun.

Tak jarang, akses jalan yang buruk mengganggu proses pelayanan kesehatan. Desi Afyati, bidan dalam tim Nusantara Sehat Puskesmas Paloh, pernah mengalami hal ini.

Ia pernah merujuk pasien sakit parah menuju Rumah Sakit Kabupaten Sambas. Ambulans yang digunakan membawa pasien justru amblas di tengah perjalanan.

Desi pun memutar otak. Ambulans dari puskesmas lain pun dia coba dihubungi. Tapi, perasaan gusar sulit dihalau karena memikirkan nasib pasien yang sakit.

"Menunggu dengan berdebar-debar, luar biasa," kenang Desi.

Yuyun juga pernah bernasib serupa Desi. Yuyun yang merupakan petugas kesehatan masyarakat sudah menjadwalkan sosialisasi ke Dusun Sungai Dungun. Tapi, sebelum berangkat, hujan deras turun mengacaukan rencananya.

Beruntung, masyarakat memahami alasan pembatalan sosialisasi itu. "Kami terpaksa menghubungi lagi bilang minta maaf tidak jadi karena faktor jalanan dan cuaca," kata Yuyun.

Sambutan dan penghargaan masyarakat menjadi satu dari sekian faktor yang membuat lima sekawan ini betah mengabdi di perbatasan. Masyarakat setempat tak pernah menganggap remeh dan syak wasangka kepada mereka.

"(Masyarakat setempat) menganggap kami sudah orang sini, remaja di Paloh pun juga akrab dengan kami," kata Asri, petugas farmasi di tim itu.

Tujuh bulan telah dilalui Yuyun cs di Kecamatan Paloh. Yuyun berharap pengabdian di Puskesmas Paloh berjalan lancar hingga dua tahun ke depan. "Semoga sampai dua tahun ke depan tetap tidak ada (kisah duka)."



(JMS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id