Operasi Korban Gempa NTB Ditarget Selesai dalam Sepekan

Andi Aan Pranata 07 Agustus 2018 14:58 WIB
Gempa Lombok
Operasi Korban Gempa NTB Ditarget Selesai dalam Sepekan
Sejumlah anggota Basarnas berusaha mengevakuasi jenazah korban yang meninggal akibat tertimbun reruntuhan Masjid Jabal Nur yang rusak akibat gempa bumi di Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8). ANTARA FOTO/Zabur Karuru.
Makassar: Tim dokter asal Sulawesi Selatan mulai mengambil tindakan medis bagi korban gempa di Nusa Tenggara Barat, Selasa, 7 Agustus 2018. Sejak pagi, tim beranggotakan 21 dokter asal Universitas Hasanuddin dan beberapa rumah sakit telah menggelar operasi terhadap sejumlah korban yang mengalami patah tulang.

Ketua tim dokter Unhas, Prof Idrus Paturusi mengatakan, operasi digelar menggunakan sebelas kamar di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, kota Mataram. Tindakan operasi digelar paralel bersama tim medis yang datang dari sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Surabaya, Bali, Bandung, dan Jakarta.

"Data yang masuk, di rumah sakit saja terdapat kurang lebih 200 kasus patah tulang. Di luar ada seratusan, jadi kurang lebih 300 kasus yang akan kita operasi," kata Idrus melalui keterangan Humas Unhas yang diterima Medcom.id.


Idrus mengatakan, tim medis asal Sulsel terus berkoordinasi dengan tim yang berdatangan dari daerah lain. Jika berjalan lancar, tim bantuan ini menargetkan 50 tindakan operasi patah tulang setiap hari.

"Diharapkan, dalam satu minggu semuanya (operasi korban patah tulang) sudah selesai. InsyaAllah semua bisa teratasi dengan kebersamaan," jelas Idrus.

Menurut Idrus, proses operasi terhadap para korban berjalan lancar. Sebab tim bantuan yang datang, membawa peralatan lengkap. Sehingga dokter yang mengambil tindakan medis tidak perlu bergantung dengan pihak lain.

Sebelumnya, kata Idrus, tim medis berencana mendirikan kamar operasi lapangan di tenda-tenda darurat. Namun rencana itu urung, karena setelah dicek, semua kamar operasi di rumah sakit dinyatakan layak digunakan. Dampak gempa tidak terlalu berpengaruh terhadap gedung.

"Tidak perlu diadakan kamar operasi lapangan, karena sterilitasnya juga tidak dijamin," pungkas Idrus.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id