Petugas mencari korban tewas dan selamat dari salah satu apartemen yang roboh akibat gempa bumi di kota Izmir, Turki pada Jumat, 30 Oktober 2020. (Yasin AKGUL/AFP)
Petugas mencari korban tewas dan selamat dari salah satu apartemen yang roboh akibat gempa bumi di kota Izmir, Turki pada Jumat, 30 Oktober 2020. (Yasin AKGUL/AFP)

BMKG Sebut Gempa Turki Akibat Sesar Sisam Pecah

Nasional tsunami Gempa Turki
Suryani Wandari Putri Pertiwi • 01 November 2020 05:42
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut sumber gempa magnitudo 7,0 yang mengguncang Provinsi Izmir, Turki, Jumat, 30 Oktober 2020 berupa patahan/sesar dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). Hal ini dipicu adanya aktivitas Sesar Sisam (Sisam Fault).
 
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan Sesar Sisam merupakan sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault) dengan panjang jalur sesar sekitar 30 kilometer (km).
 
"Sesar Sisam dekat Pulau Samos ini pecah dekat Menderes Graben, wilayah dengan sejarah panjang gempa dengan sesar turun (normal fault)," jelas Daryono dalam keterangan tertulis, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejarah gempa mencatat di sekitar Sesar Sisam sudah beberapa kali terjadi gempa kuat pada masa lalu. Seperti gempa 1904 berkekuatan 6,2 dan gempa pada 1992 berkekuatan 6,0.
 
Ia menuturkan lantaran mekanisme patahan bergerak turun dan hiposenter gempa sangat dangkal, sekitar 6 km, maka wajar gempa memicu terjadinya tsunami. Kejadian tsunami akibat gempa didokumentasikan dengan baik oleh banyak alat pengukur pasang surut dan saksi mata di beberapa pulau di Yunani dan pantai di Turki.
 
(Baca: Korban Tewas Gempa Bumi di Turki Jadi 26 Orang)
 
Tsunami lokal tampak tercatat di stasiun-stasiun tide gauge seperti stasiun Syros ±8 cm, Kos ±7 cm, Plomari ±5 cm, dan Kos Marina ±4 cm. Sayangnya, pantai terdekat pusat gempa tidak ditemukan catatan tide gauge, padahal tsunami ini juga menimbulkan kerusakan ringan di beberapa wilayah pantai Yunani dan Turki.
 
"Tsunami kecil ini terjadi dan melanda daratan akibat kondisi topografi lokal pantai yang landai di dekat garis pantai sehingga mendukung terjadinya genangan di daratan. Hal ini berkaitan dengan morfodinamika pantai dan amplitudo pasang surut," beber dia.
 
Daryono menyebut wilayah Laut Aegean secara historis ialah kawasan rawan gempa dan tsunami. Peristiwa tsunami terakhir di Bodrum, Turki, akibat gempa berkekuatan 6,6 pada 2017.
 
Kerusakan akibat gempa sebagian besar terjadi pada kawasan permukiman yang terletak pada tanah lunak, seperti di pesisir pantai dan cekungan dengan dataran alluvial yang lunak.
 
Daryono mengimbau masyarakat Indonesia waspada. Gempa Turki menjadi pelajaran penting bagi masyarakat di Tanah Air, yang tinggal di wilayah dengan kondisi seismik aktif dan memiliki banyak jalur sesar aktif di dasar laut.
 
"Sehingga kewaspadaan terhadap gempa dan tsunami perlu terus ditingkatkan dengan memperkuat upaya mitigasinya, baik mitigasi struktural dan non struktural," tutur dia.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif