Sidang Vonis Aman Abdurrahman tak Disiarkan Langsung

Deny Irwanto 22 Juni 2018 08:20 WIB
terorisme
Sidang Vonis Aman Abdurrahman tak Disiarkan Langsung
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar - Medcom.id/Deny Irwanto.
Jakarta: Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar mengatakan, vonis terdakwa terorisme Aman Abdurrahman tak akan disiarkan langsung. Pihaknya melarang media untuk menyiarkan secara langsung sidang vonis itu. 

"Arahan KPI sudah cukup jelas, pertama demi kewibawaan majelis itu sendiri, kedua demi keamanan dari pada perangkat persidangan termasuk saksi, yang ketiga untuk menghindari menyebarnya ideologi," kata Indra di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jumat, 22 Juni 2018.

Meski sidang terbuka, Indra menjelaskan, media hanya diperkenankan berada di dalam ruang sidang beberapa menit sebelum sidang dimulai dan beberapa menit sebelum sidang berakhir.


Indra menambahkan selama persidangan berlangsung, media hanya dibolehkan berada di lobi Pengadilan.

"Tiga menit sebelum sidang dimulai boleh masuk, sebelum pembacaan amar putusan juga kan ada break, nanti masuk," tukas Indra.

(Baca juga: Polisi Bersenjata Laras Panjang Jaga di Depan PN Jaksel)

Aman Abdurrahman dituntut hukuman pidana mati. Jaksa menilai, Aman adalah residivis kasus terorisme. 

Dia juga dinilai menjadi penganjur amaliah teror kepada para pengikutnya. Pemahaman soal syirik demokrasi yang disebar Aman di internet juga memengaruhi banyak orang.

Jaksa menilai perbuatan teror yang diinisiasi Aman telah menelan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak. Para korban hidup pun menderita luka cukup parah yang sulit dipulihkan. 
 
Aman dinilai terbukti sebagai aktor intelektual yang memberikan doktrin kepada pelaku bom bunuh diri di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016. Dia juga ada di balik teror bom Kampung Melayu dan Samarinda.

Dia memberikan doktrin kepada para pengikutnya yang mengunjunginya di penjara. Mereka diperintahkan untuk berjihad dengan menjadikan warga negara asing, terutama Prancis dan Rusia, sebagai target.
 



(REN)