Pergerakan Sesar tak Bisa Diprediksi
Warga mengangkat atap rumah yang terselamatkan dari gempa dan likuifaksi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda)
Jakarta: Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkapkan pergerakan sesar tidak bisa diprediksi. Sedikitnya ada 295 sesar aktif yang memanjang di seluruh wilayah di Indonesia.

Menurut Daryono meskipun ada teori tentang pemicu gempa (triggering earthquakes), pergerakan sesar atau patahan hanya bisa dipantau dengan jelas dan empiris jika segmen gempa saling berdekatan.

"Seperti gempa di Lombok itu ada tiga segmen. Pusat gempa di tengah kemudian memicu pergerakan di segmen lainnya yang berada di barat dan timurnya. Itu bisa terjadi jika segmen gempa jaraknya sangat berdekatan," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 12 Oktober 2018.


Daryono mengatakan sulit untuk menjawab apakah peristiwa gempa yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia merupakan efek domino dari satu gempa yang terjadi pertama kali. Pasalnya setiap gempa memiliki karakteristik berbeda.

Suatu gempa, kata dia, memiliki medan tegangan sendiri, membangun akumulasi sendiri, dan sampai di fase matang kemudian akan rilis ketika energi yang tertahan sudah berada di batas maksimum memiliki proses masing-masing.

"Jadi kalau melihat sumber gempa itu sangat banyak. Kalau kemudian terjadi gempa yang berdekatan itu hanya kebetulan saja," ungkapnya.

Daryono menambahkan hasil monitoring BMKG menunjukkan ada banyak sekali sesar di Indonesia baik yang aktif maupun tidak. Salah satu sesar yang terus aktif adalah sesar Sumatera di sekitar wilayah Padang Panjang yang mengarah ke selatan menuju Bengkulu. 

Sesar lain yang juga sering menimbulkan gempa adalah sesar Flores yang terbentang dari utara Bali sampai ke timur Flores. Terakhir adalah sesar Palu Koro yang mengguncang wilayah Donggala hingga menimbulkan tsunami di Palu dan likuefaksi di Sigi.

"Sesar Palu Koro khususnya sebelum gempa sekarang catatan kami cukup banyak terjadi sebelumnya dan sangat aktif menghasilkan gempa meskipun beberapa di antaranya tidak merusak," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id