Prajurit TNI Belajar Bahasa di Jerman dan Perancis

Fachri Audhia Hafiez 03 November 2018 03:54 WIB
tni ad
Prajurit TNI Belajar Bahasa di Jerman dan Perancis
Mayjen TNI Heri Wiranto saat berkunjung ke Jerman dan Perancis 24 sampai 28 Oktober 2018 dalam rangka kegiatan Pengendalian dan Pengawasan Pendidikan LN (Dalwasdik LN). Dok.Dispenad.
Jakarta: Angkatan Darat Jerman dan Perancis memberi kesempatan kepada prajurit TNI AD untuk belajar bahasa. Kesempatan belajar itu diharapkan dapat memperkaya kemampuan bahasa para prajurit.

Hal tersebut disampaikan perwira pembantu (Paban) II pembinaan pendidikan staf umum personel TNI AD (Bindik Spersad) Kolonel Arm Budi Eko Mulyono. Para prajurit akan belajar bahasa Jerman di Bundessprachenamt (BSprA) di Hurth, Cologne, sebuah sekolah Bahasa Federal, Jerman. Kemudian belajar bahasa Perancis di Kantor Atase Pertahanan RI di Paris.

"Kesempatan ini diperoleh saat Asisten Personel Kepala Staf Angkatan Darat (Aspers Kasad) Mayjen TNI Heri Wiranto saat berkunjung ke Jerman dan Perancis 24 sampai 28 Oktober 2018 dalam rangka kegiatan Pengendalian dan Pengawasan Pendidikan LN (Dalwasdik LN) yang diikuti Personel TNI AD di sana," kata Budi dalam keterangan resmi, Jumat, 2 November 2018.


Pendidikan yang dilaksanakan BSprA Jerman maupun di Perancis pada dasarnya terbuka kepada seluruh Personel TNI AD. Kendati demikian, jumlah alokasi yang terbatas maka dilaksanakan seleksi secara ketat baik dari aspek jasmani, akademik, kesehatan serta kemampuan berbahasa asing.  

"Kriteria yang tidak kalah pentingnya adalah keselarasan jenis pendidikan dengan jabatannya. Ini penting, supaya kelak setelah selesai mengikuti pendidikan, yang bersangkutan bisa langsung menerapkannya di lingkup kerjanya secara langsung,” tutur Budi.

Komposisi siswa yang menempuh pendidikan di BSprA Jerman yakni 80 persen terdiri dari tentara, polisi, hakim dan instansi Jerman lainnya. Sedangkan 20 persen lainnya siswa internasional. 

“BSprA memiliki 450 jurusan pendidikan yang sesuai dengan animo dari instansi/negara pengirim dan penyelenggaraan pendidikannya dapat dilaksanakan dengan kelas besar, kelas kecil maupun kelas privat. Setiap tahunnya, mereka mendapat kurang lebih 400 ribu permintaan kursus,” terang Budi.

“Metode pengajaran yang diterapkan di BSprA adalah aplikasi bersosialisasi dengan masyarakat sipil di segala bidang kehidupan sehari-hari,” sambung dia.

Sementara, pendidikan di Perancis banyak yang berafiliasi dengan institusi pendidikan atau universitas, baik yang terkait dengan pendidikan perwira maupun bintara.

Hal tersebut bertujuan agar personel yang tidak melanjutkan karier di militer memiliki kesempatan untuk berkarya di lingkungan sipil. Meski tidak ada aturan yang memprioritaskan mantan anggota militer dalam hak mendapatkan pekerjaan.

"Dari hasil kunjungan ke Jerman dan Perancis tadi, pada dasarnya peluang pendidikan ke luar negeri sangat terbuka luas, namun itu juga tergantung kepada kualitas SDM dari anggota kita, baik dalam rangka pendidikan militer maupun pendidikan umum setingkat S2 bahkan S3, sehingga kedepannya kita optimis jika TNI AD akan dapat diisi oleh personel yang unggul dan profesional dan berkelas dunia,” pungkas Budi.



(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id