Industri Penerbangan Indonesia Belum Dikelola dengan Canggih

30 Oktober 2018 13:20 WIB
Lion Air Jatuh
Industri Penerbangan Indonesia Belum Dikelola dengan Canggih
Pakar Penerbangan Chappy Hakim. (Foto: MI/Atet Dwi Pramadia)
Jakarta: Industri penerbangan sarat akan peralatan berteknologi tinggi yang pengelolaannya tidak bisa serampangan. Pengelolaan yang tidak profesional hanya akan bermuara pada potensi terjadinya kecelakaan.

Pakar Penerbangan Chappy Hakim mengatakan pengelolaan industri penerbangan secara canggih tidak bisa hanya berhenti pada operasional alat. Sumber daya manusia termasuk regulasi juga harus dikelola dengan benar. 

"Cara canggih itu disiplin tinggi dalam mematuhi aturan-aturan, prosedur, ketentuan, dan kebijakan yang diberlakukan. Karena dunia penerbangan itu canggih maka harus dikelola dengan canggih pula," ujarnya dalam Breaking News Metro TV, Senin, 30 Oktober 2018.


Chappy menyebut selama ini penanganan kecelakaan pesawat tidak pernah sampai ke akar. Salah satu penyebabnya, disiplin tinggi dari maskapai dan awak pesawat tidak dibarengi dengan pengawasan melekat dan tindakan tegas sebagai upaya menimbulkan efek jera. 

Satu contoh, kata dia, dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, mengamanatkan dua tahun setelah peristiwa kecelakaan pesawat harus segera dibentuk Mahkamah Penerbangan. Hingga kecelakaan pesawat ke sekian kali, lembaga tersebut belum juga dibentuk.

"Tidak ada Mahkamah Penerbangan kita sulit menagih kemana tanggung jawab atas peristiwa ini. Satu-satunya jawaban, seluruh stakeholder penerbangan harus duduk bersama untuk sama-sama mencari solusi. Tidak bisa sendiri-sendiri," kata dia.

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara itu mengatakan harus diingat bahwa penerbangan adalah bagian dari roda globalisasi. Saat industri penerbangan di negara lain sudah menjadi bagian dari sistem transportasi udara global, di Indonesia pengelolaannya masih berupa sub sistem.

Pengelolaan yang tidak profesional hanya akan membuat Indonesia dicap tidak mampu mengurus sendiri industri penerbangan yang dimiliki. Bukan tidak mungkin, ungkapnya, suatu saat pembuat keputusan dalam industri penerbangan adalah orang lain yang dipandang lebih mampu oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

"Ini yang harus diwaspadai bersama. Kita harus menyadari betul, kecelakaan kemarin harus jadi yang terakhir. Kita coba buka lembaran baru bagaimana menata ulang penerbangan nasional ini secara komprehensif, profesional, dan canggih," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id